<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Salafi Haroki &#187; raddusy syubuhat</title>
	<atom:link href="http://salafiharoki.wordpress.com/category/raddusy-syubuhat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://salafiharoki.wordpress.com</link>
	<description>Bergerak Menuju Perubahan Berlandaskan Manhaj Salafussholeh</description>
	<lastBuildDate>Sat, 02 Feb 2008 03:17:26 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='salafiharoki.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/1c8653aee532f3a152ba32dc237b5a7c?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Salafi Haroki &#187; raddusy syubuhat</title>
		<link>http://salafiharoki.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Hasan Al Banna Menyimpang Dalam Aqidah ?</title>
		<link>http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/29/hasan-al-banna-menyimpang-dalam-aqidah/</link>
		<comments>http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/29/hasan-al-banna-menyimpang-dalam-aqidah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jan 2008 18:53:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>salafiharoki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[raddusy syubuhat]]></category>
		<category><![CDATA[hasan al banna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/29/hasan-al-banna-menyimpang-dalam-aqidah/</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang berkata bahwa Hasan al Banna adalah rajulun shalih, tetapi akidahnya cacat. Beliau mengutip perkataan seorang ustad di Surabaya dalam sebuah kaset yang berisi kecaman-kecaman terhadap tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin. Kami amat heran mendengarnya. Apakah ada rajulun shalih yang berakidah cacat, padahal kebersihan akidah adalah pangkal segala kesolehan? Kami menemukan ada beberapa wacana akidah yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiharoki.wordpress.com&blog=2578131&post=33&subd=salafiharoki&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="snap_preview">Ada yang berkata bahwa Hasan al Banna adalah rajulun shalih, tetapi akidahnya cacat. Beliau mengutip perkataan seorang ustad di Surabaya dalam sebuah kaset yang berisi kecaman-kecaman terhadap tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin. Kami amat heran mendengarnya. Apakah ada rajulun shalih yang berakidah cacat, padahal kebersihan akidah adalah pangkal segala kesolehan? Kami menemukan ada beberapa wacana akidah yang telah diungkap al Banna dan mendapat respon negatif dan sumbang dari sebagian kecil kaum muslimin yang fanatik dengan hawa nafsunya. Bahkan, akidahnya dianggap sesat.<span id="more-33"></span></p>
<p>a. Tawassul (berdoa kepada Allah Swt dengan perantara/wasilah)</p>
<p>Kami mengikuti kehendak yang mencela al Banna bahwa tawassul dikategorikan sebagai masalah akidah, bukan masalah fiqh tata cara berdoa yang furu’. Hasan al Banna pernah menulis dalam Risalah Ta’alim, rukun al Fahm nomor 15, “Doa jika diiringi tawassul kepada Allah Swt dengan salah satu makhluk-Nya adalah perselisihan furu’ menyangkut tata cara berdoa, bukan termasuk masalah akidah.” (Hasan al Banna, Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin, Jilid II hal 184).<span></span></p>
<p>Itulah yang membuat al Banna mendapat badai celaan. Bahkan, mereka menganggap al Banna orang awam terhadap masalah aqidah tauhid (As Sunnah edisi 05/Th. III/1419-1998, hlm. 26. Penulis Risalah Bid’ah mengategorikan tawassul dalam lingkup akidah).</p>
<p>Bagi mereka, tawassul merupakan masalah akidah, bukan sekadar furu’ dalam tata cara berdoa. Hal itu terus-menerus diteriakkan melalui majelis dan media-media mereka.</p>
<p>Sesungguhnya, tidak ada masalah apa pun jika mereka beranggapan seperti itu. Begitulah hasil ijtihad mereka. Namun, sama sekali tidak dibenarkan jika mereka mengingkari al Banna yang berpandangan lain dengan mereka. Kami tidak membantah apa pun hasil ijtihad mereka sekalipun mereka katakan terjadi ijma’ bahwa tawassul adalah bathil. Hal yang ingin kami koreksi adalah sikap tidak etis yang terjadi lantaran perbedaan pandangan. Seharusnya, mereka tidak perlu seperti itu karena nyatanya pandangan al Banna tentang tawassul merupakan pandangan para ulama yang mu’tabar.</p>
<p>Kami mengatakan benar-seperti yang dikatakan al Banna-tawassul adalah masalah khilafiyah antara ulama dari berbagai mazhab. Bahkan, perselisihan pun terjadi antara ulama semazhab; dari Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Tidak ada ijma’ tentang kebolehan atau keharamannya. Jadi, sikap keras dalam mengingkari pihak lain yang tidak sepaham adalah sikap keterlaluan dan bukan cerminan ahli ilmu. Kami menegaskan bahwa tawassul adalah cakupan fiqh yang furu’ bukan masalah akidah yang ushul. Perselisihan fiqh itu amat jelas tertera dalam al Mausu’ah al Fiqhiyah al Quwaitiyah (Insiklopedi Fikih Quwait) juz 14. Jadi sekali lagi, pernyataan al Banna bahwa tawassul adalah perselisihan furu’ tata cara berdoa merupakan pandangan yang dibenarkan para ulama sesuai neraca ilmu pengetahuan dan penelitian (Yusuf al Qaradhawy, 70 tahun Al Ikhwan Al Muslimun, hlm. 285)</p>
<p>Berikut pandangan Ulama tentang tawassul tanpa tarjih (memilih yang terkuat dalilnya) karena bukan dimaksudkan untuk kompetensi.</p>
<p>Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab-semoga Allah meridhainya-berkata dalam Majmu’ al Fatawa. “Pendapat mereka dalam masalah istisqa’ menyatakan, “Tidak apa-apa ber-tawassul dengan orang-orang soleh.” Imam Ahmad (bin Hambal) membolehkan tawassul dengan Nabi SAW saja. Perbedaan pendapat itu jelas sekali. Jadi, ada pihak yang membolehkan tawassul melalui orang soleh dan ada pula yang mengkhususkan melalui Nabi SAW saja. Adapun mayoritas ulama melarang itu dan membencinya karena itu masalah ini termasuk masalah fiqh. Pendapat mayoritas yang benar makruh hukumnya, tetapi kami tidak menginginkari orang yang melakukannya.” (Ibid hlm. 284)</p>
<p>Pernyataan dan sikap Imam Ibnu Abul Wahhab ini amat berbeda dengan para pengagumnya yang tidak mewarisi fiqh-nya kecuali hanya sedikit.</p>
<p>Imam Asy Syaukani-semoga Allah SWT merahmatinya-seorang salafi terkenal, membolehkan tawassul dalam buku Tuhfah Adz Dzkirin al Hishn al Hashin (ibid hlm. 285). Imam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al Fatawa menyatakan bahwa Syaikh Izzuddin bin Abdussalam membolehkan tawassul kepada Nabi SAW. Bahkan katanya, orang yang mengafirkan pendapat itu berhak mendapat sanksi yang berat seperti pendusta-pendusta agama (Abdul Halim Hamid, Ibnu Taimiyah, Hasan al Banna dan Ikhwanul Muslimin, hlm. 167)</p>
<p>Dari pandangan para Imam itu, kita melihat bahwa asy Syahid al Banna berada satu shaff dengan mereka. Bahkan, al Imam al ‘Allamah Muhammad Nashiruddin al Albany rahimahullah pun menyatakan tawassul bukanlah masalah aqidah. Beliau menegaskan hal itu dalam muqaddimah bukunya Syarh al Aqidah ath Thahawiyah karya Ibnu Abi al Izz al Hanafi tentang tujuh masalah pokok. Beliau berkata, “Semua termasuk masalah akidah kecuali yang terakhir.” Kata penta’liq (komentator) kitab itu, masalah yang itu terakhir adalah tawassul (Yusuf al Qaradhawy, Op cit, hlm 166)</p>
<p>Kemudian, apa yang membuat para pencela menganggap keliru dan awam pendapat al Banna yang notabene adalah pendapat para Imam termasuk kebanggaan Imam mereka sendiri Syaikh al Albany? Tentunya anggapan mereka tersebut membawa konsekuensi bahwa para Imam, termasuk Syaikh al Albany, sama kelirunya dengan al Banna! Itu adalah perilaku yang tidak pantas dilakukan muslim yang berakhlak dan mengerti fiqh (Para ulama mengatakan, “Siapa yang tidak mengetahui perselisihan fiqh para fuqaha’ ia belum mencium aroma fiqh”. Jika aroma saja belum tercium, bagaimana mungkin dengan isinya?)</p>
<p>Semoga Allah ‘Azza wa Jalla memaafkan kita semua. Dari pandangan para ulama itu, ada beberapa kesimpulan yang dapat diambil.</p>
<p>1.</p>
<p>Tawassul kepada Nabi SAW (ketika masih hidup atau sudah wafat) dan orang-orang soleh yang sudah wafat adalah masalah khilafiyah. Contoh kalimat dalam tawassul yang diperdebatkan, misalnya “Ya Allah! Dengan hak Nabi-Mu, dengan kemuliaan dan kehormatan disisi-Mu, ampunilah aku” atau “Ya Allah! Dengan kemuliaan wali-Mu dan orang-orang soleh seperti si fulan dan si fulan, ampunilah aku.”<br />
2.</p>
<p>Tidak adal dalil qath’i yang menegaskan boleh atau tidaknya tawassul<br />
3.</p>
<p>Kaum muslimin sepakat bahwa masalah itu tidak sampai mendatangkan ‘iqab (sanksi)<br />
4.</p>
<p>Bagi yang menjatuhkan ‘iqab berarti telah melampaui batas, jahil dan zalim (Abdul Halim Hamid, Ibnu Taimiyah Hasan al Banna dan Ikhwanul Muslimin, hlm. 166)</p>
<p>Namun, ada juga tawassul yang tidak diingkari para ulama dan Imam. Tawassul model itu tampaknya lebih selamat dan menentramkan hati:</p>
<p>1.</p>
<p>Tawassul kepada Allah SWT dengan asma’ul husna. Contoh, “Engkau adalah ar Rahman, ar Rahim! ampunilah aku.” Dalilnya, “Bagi Allah swt nama-nama yang baik (asma’ul husna), karena itu memintalah dengannya.” (QS al A’raf:180)<br />
2.</p>
<p>Tawassul depada Allah swt dengan amal soleh. Contoh, “Ya Allah, dengan keimananku kepada-Mu, cintaku kepada-Mu dan taatku kepada-Mu, ampunilah aku.” Dalilnya, “Orang-orang yang berdoa, ya Robb kami sesungguhnya kami telah beriman, ampunilah segala dosa kami dan jagalah kami dari api neraka.” (QS Ali Imran:16). Begitupun hadits sahih (Imam bukhari dan Imam Muslim) tentang tida orang yang terkurung dalam goa, lalu masing-masing berdoa kepada Allah swt sambil ber-tawassul dengan amal soleh mereka untuk dapat keluar dari goa.<br />
3.</p>
<p>Tawassul kepada Allah swt dengan doa orang soleh. Sederhananya kita meminta orang soleh untuk mendoakan kita. Contoh, ‘Umar bih Khaththab meminta Abbas bin Abdul Muthalib Ra (paman Nabi saw) untuk berdoa minta hujan (Muhammad Nashiruddin al Albany, Tawassul, hlm. 40-58)</p>
<p>Itulah pendapat Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Muhammad bin Abdul Wahhab, Muhammad Nashiruddin al Albany, Yusuf al Qaradhawy dan ulama lain.</p>
<p>Wallahu a’lam</p>
<p>b. Hasan al Banna dan Pandangannya tentang Asma’ dan Shifat Allah</p>
<p>Dalam masalah asma’ wa shifat, al Banna telah melakukan seperti yang dilakukan para salaf, misalnya membaca Risalah al ‘Aqaid. Namun, ia masih diingkari dengan keras. Itulah salah satu bagian yang membuat kita mengerutkan dahi, mengelus dada dan menggelengkan kepala. Hampir-hampir menghantarkan kita pada sebuah kesimpulan bahwa kritik yang dialami al Banna dari kaum jufat (penghujat) telah keluar dari batas-batas ilmiah dan cenerung emosional dan tendensius. Mereka membaca kitab, tetapi tidak memiliki ilmu untuk memahaminya. Mereka melihat, tetapi tidak mengerti yang sedang mereka lihat. Mereka mencela, tetapi tidak tahu yang sedang mereka cela.</p>
<p>Terhadap sifat-sifat Allah swt yang tertera dalam ayat-ayat atau hadis, manhaj salaf adalah itsbat(menetapkan) adanya sifat-sifat Allah swt sesuai kesempurnaan-Nya, bukan ta’wil(memberikan makna), ta’thil(mengingkari/meniadakan), tahrif(mengubah), tasybih(menyerupai makhluk) dan takyif(bertanya bagaimana). Hasan al Banna telah menetapkan yang demikian itu dalam al Aqaid-nya, tetapi risalah itu tidak dipahami (atau tidak dihargai) dengan semestinya. Al Banna tetap dicela. Ia dituduh berpaham tafwidh, yaitu menyerahkan kandungan makna sifat-sifat-Nya kepada Allah swt tanpa meyakininya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa tafwidh adalah model akidah paling buruk (Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad Asy Syihy, Dialog Bersama Ikhwani, hlm. 16-18. Lihat juga As Sunnah edisi 05/Th. III/1419-1998, hlm. 26)</p>
<p>Benarkah tuduhan tersebut?</p>
<p>Hasan al Banna berkata, “Engkau telah mengetahui bahwa mazhab salaf mengenai ayat-ayat dan hadis-hadis yang berhubungan dengan sifat-sifat Allah swt mengikuti yang disebutkan tentangnya (ucapan itu sesuai dengan yang dikatkan Imam Sufya bin Uyainah, “Tiap kali Allah sifatkan diri-Nya dalam kitab-Nya, penafsirannya adalah bacaan (seperti adanya) dan bersikap diam.” Ucapan itu ada dalam Ushulus Sunnah Imam al Lalika’i.) tanpa tafsir dan takwil. Bagi mazhab khalaf, mereka mena’wilnya dengan sesuatu yang tidak menodai kesucian Allah.” (ucapan ini sesuai dengan yang dikatakan Imam asy Syatibi dalam al I’tisham, “kita dapatkan bahwa masing-masing pihak-salaf dan khalaf-berkeyakinan melindungi kesucian, menafikan kekurangan, dan meninggikan derajatnya.”)</p>
<p>Ia pun berkata, “Adapun ulama salaf-semoga Allah swt ridha’ kepada mereka-berkata, ‘kita beriman kepada ayat-ayat dan hadis-hadis apa adanya dan menyerahkan penjelasan tentang maksudnya kepada Allah swt; mereka itsbat (menetapkan) adanya tangan, mata, bersemayam, tertawa,…” Kemudian, al Banna memilih mazhab salaf untuk dirinya, “Kami berkeyakinan bahwa pendapat salaf-yaitu diam dan menyerahkan kandungan maknanya kepada Allah swt-lebih utama dengan memotong habis ta’wil dan ta’thil(peniadaan).” (Hasan al Banna, Risalah Pergerakan IM jilid II, hlm. 257-265)</p>
<p>Itulah pandangan al Banna tentang sifat-sifat Allah dan ia tidak berubah tentang hal itu. Tampak dengan terang-seterang siang-bahwa ia sejalan dengan pemahaman salafush shalih. Jika demikian, apa yang membuatnya diserang dengan tuduhan tafwidh? apakah mereka juga menuduh bahwa Hasan al Banna menilai salafush shalih sebagai tafwidh bukan itsbat? (Yusuf al Qaradhawy, 70 tahun IM, hlm. 301. Lihat juga Dialog Bersama Ikhwani, hlm. 17-18)</p>
<p>Seandainya orang-orang itu mau ikhlas dan jujur, mareka akan menemukan di dalam al Aqaid bahwa Hasan al Banna dengan tegas mengatakan “Mereka para salaf telah itsbat adanya tangan, mata, bersemayam, tertawa,..” Jadi, kalimat mana yang membenarkan anggapan mereka bahwa al Banna menuduh para salaf tafwidh, bukan itsbat? itu adalah kebutaan yang tidak pantas terjadi.</p>
<p>“Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi hati yang di dalam dada.” (QS alhajj:46)</p>
<p>Barangkali, anggapan al Banna menuduh salaf telah tafwidh adalah ketika beliau mengatakan pendapat salaf diam dan menyerahkan kandungan maknanya kepada Allah swt’ seperti ang sudah kami kutip sebelumnya. Itu mereka artikan sebagai tafwidh (lihat lagi definisi tafwidh). Seandainya tuduhan mereka benar bahwa al Banna telah melakukan tafwidh, apakah tarwidh selalu buruk dan salah seperti yang dikatakan Ibnu Taimiyah?</p>
<p>Tafwidh Ada Dua Macam</p>
<p>(Abdul Halim Hamid, Ibnu Taimiyah, Hasan al Banna dan IM, hlm. 152-154)</p>
<p>Persoalan tafwidh dapat menyangkut ayat yang muhkan (jelas) dan mutasyabbih (samar). Tafwidh yang selalu dianggap buruk sebagian orang, ternyata memiliki beragam makna. Paling tidak, ada dua makna.</p>
<p>Pertama, tafwidh yang terpuji dan kita wajib meyakininya.</p>
<p>Kedua, tafwidh yang tercela dan kita wajib menjauhinya.</p>
<p>Tafwidh yang baik dan wajib diyakini adalah tafwidh (penyerahan) secara total hakikat makna ketika kita sandarkan kepada zat Allah swt. Oleh karena kita tidak mengerti eksistensi-Nya, bagaimana mungkin kita tahu hakikat sifat-Nya?</p>
<p>“Tiada suatu pun yang serupa dengan-Nya dan Ia maha mendengar lagi maha mengetahui.” (QS asy Syura:11)</p>
<p>“Mereka dengan ilmunya tidak dapat menjangkau-Nya” (QS Thaha:110)</p>
<p>Adapun tafwidh yang tercela adalah tafwidh seseorang bahwa lafal pada ayat-ayat sifat dan hadis-hadis sifat tidak memiliki makna sama sekali. Dari berbagai sudut pandang, kata-katanya tidak dapat dipahami, misalnya alif, lam, mim, tha, sin, mim dan seterusnya.</p>
<p>Jika kita kaji ucapan Imam al Banna, jelas sekali bahwa tafwidh yang dimaksud berhubungan dengan Zat Allah swt dalam bentuk atau kesempurnaannya. Manusia tidak mengetahuinya secara hakikat, jadi pengertiannya kita serahkan kepada Allah swt. Itu semua sesuai dengan hadis Nabi saw yang memerintahkan kita agar jangan memikirkan Zat Allah, tetapi pikirkanlah ciptaan-Nya.</p>
<p>Imam Ahmad bin Hambal berkata tentang hadis ‘Allah turun ke langit dunia’ atau ‘Allah menyaksikan…’ “kita beriman kepadanya dan membenarkannya tanpa harus membayangkan wujudnya, caranya, maknanya, dan tanpa menolak sesuatu pun darinya.” (Hasan al Banna Op cit, hlm. 258)</p>
<p>Itulah Imam Ahmad! makna apa yang tidak boleh dibayangkan menurutnya? tentu makna dalam tinjauan bentuk dan hakikat yang berhubungan dengan Zat Allah swt.</p>
<p>Bersama Para Imam dan Hasan al Banna</p>
<p>(Yusuf al Qaradhawy, Op cit hlm 301-303. Sebagian pandangan para Imam itu tertera juga dalam al Aqaid-nya al Banna. Apakah mereka-para pencela-tidak mengambil pelajaran darinya?)</p>
<p>Berikut sederetan Imam yang memiliki kesamaan pandangan dengan al Banna dalam memahami sifat-sifat Allah swt, yaitu pemahaman Ahlus sunnah, yang menyerahkan kandungan makna kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Syaikh Mar’i bin Yusuf al Karami al Maqdisi al Hambali (wafat 1032 H) seorang pakar mazhab Hanbali pada masanya. Ia berkata dalam kitabnya Aqawil ats Tsiqat fi Ta’wil al Asma’ was Sifat, “jika sudah semikian, ketahuilah diantara hal-hal yang bersifat mutasyabihat (samar) adalah ayat-ayat sifat yang penakwilan isinya sangatlah jauh (tidak mungkin). Oleh karena itu, jangan ditakwilkan dan jangan ditafsirkan.” Ia pun berkata, “Saya sebutkan dalam buku saya al Burhan fi Tafsir al Qur’an tentang firman Allah swt, ‘Tiada yang dinanti-nantikan (pada hari kiamat), melainkan datangnya Allah dalam naungan awan.’ (QS al Baqarah:210). Setelah menyebutkan aliran-aliran para penakwil, Syaikh Mar’i berkata, “Mazhab salaf dalam masalah tersebut adalah tidak memasuki hal-hal seperti itu (tidak mau membincangkannya), bersikap diam, dan menyerahkan ilmunya kepada Allah swt.”</p>
<p>Ibnu Abbas Ra berkata, “Ayat seperti itu termasuk hal yang dirahasiakan dan tidak boleh ditafsirkan. Sikap paling baik adalah hendaknya manusia percaya kepada zhahir-nya dan menyerahkan ilmunya kepada Allah swt.” Demikianlah jalan para Imam salaf.</p>
<p>Ibnu Abdul Barr dalam Jami’ Bayan al Ilmu wa Fadhlihi berkata, “Az Zuhri, Malik, al Auza’i, Sufyan ats Tsauri, al Laits bin Sa’ad, Ibnul Mubarak, Ahmad bin Hambal dan Ishaq Rahawaih berkata tentang ayat di atas dan semisalnya, “Biarkanlah demikian sebagaimana datangnya.”</p>
<p>Di dalam Risalah at Tadmuriyah disebutkan bahwa mayoritas pengikut Ahlussunnah, salaf dan ahlul hadits mengimaninya serta menyerahkan maknanya kepada Allah swt. Ibnu Taimiyah berkata “Kami tidak menafsirkannya. Kami menyucikan-Nya dari hakikat (ayat-ayat sifat tersebut).”</p>
<p>Imam al Lalika’i al Hafizh dalam Ushulus Sunnah telah meriwayatkan dari Muhammad bin hasan (murid Abu Hanifah) yang berkata “Para fuqaha seluruhnya dari Timur hingga Barat sepakat mengimani sifat-sifat-Nya tanpa menafsirkan, menyerupakan dan washf (menetapkan sifat yang tidak seharusnya).” Ucapan itu dikutip Imam adz Dzahabi juga dalam al ‘Uluw dan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al Fatawa.</p>
<p>Imam atTirmidzi dalam Sunan-nya berbicara tentang hadis “melihat Allah swt”. Ia menganut para pakar dari Imam-Imam, seperti Sufyan ats Tsauri, Ibnul Mubarak, Malik, Ibnu ‘Uyainah dan Waki’. Mereka berkata, “Kami meriwayatkan hadis itu seperti waktu kami terima. Kami percaya padanya dan tidak bertanya ‘bagaimana?’. Kami pun tidak menafsirkan dan tidak pula membayangkannya.” Sufyan bin Uyainah berkata “Tiap kali Allah swt sifatkan diriNya dalam kitabNya, penafsirannya adalah bacaan (apa adanya) dan bersikap diam. Tidak boleh seorangpun menafsirkan kecuali Allah dan RasulNya.” Ucapan itu terdapa dalam Ushulus Sunnah Imam al Lalika’i dan Syarhus Sunnah Imam al Baghawy.</p>
<p>Imam Ibnu Khuzaimah ditanya tentang diskusi mengenai nama dan sifat-sifat Allah swt. Jawabnya, “Para imam kaum muslimin, pentolan mazhab, para pemimpin agama-Imam Malik, Imam Sufyan, Imam al Auza’i, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Ishaq bin Rahawaih, Imam Yahya bin Yahya, Imam Ibnul Mubarak, Imam Abu Hanifah, Imam Muhammad bin Hasan, dan Imam Abu Yusuf-tidak pernah membicarakan hal itu dan mereka melarang rekan-rekannya terjun ke dalamnya serta menuntun mereka kepada Kitab dan Sunnah.”</p>
<p>Kutipan-kutipan menunjukkan, tidak syak lagi, bahwa Imam asy Syahid Hasan al Banna ridhwanullah ‘alaih berada satu fikrah dan shaff bersama pakar Islam, para Imam, salafush shalihin ridhwanullah ‘alaihim ajmai’in. Para salaf tidak pernah berkeinginan terlibat dalam perdebatan penafsiran nash-nash yang diributkan manusia belakangan. Mereka justru diam. Itu bukan menunjukkan ketidakpahaman mereka, melainkan manhaj mereka yang mulia-mengimaninya dan bukan mengutak-atiknya seperti yang Allah swt isyaratkan dalam surat Ali Imran (7) “Orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, ‘Kami beriman kepadanya (ayat-ayat mutasyabihat) karena semuanya berasal dari sisi Allah’.”</p>
<p>Sikap para Salaf menunjukkan kedalaman ilmu mereka dan kearifannya. Membiarkan ayat seperti pada waktu datangnya dan menyerahkan maknanya kepada Allah swt adalah bentuk kesadaran bahwa kemampuan akal manusia amat terbatas. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Dia mengetahui yang ada di hadapan mereka dan yang ada di belakang mereka, sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmuNya.”(QS. Thaha: 110)</p>
<p>Tudingan Terakhir Masalah Ini</p>
<p>Hasan al Banna, walau memihak mazhab salaf, menganggap perbedaan antara mazhab salaf dan khalaf dalam memahami asma wash shifat tidaklah signifikan. Namun, hal itu tidak diterima sebagian kecil kalangan, bahkan al Banna dianggap berupaya mendekatkan al haq dan al bathil (Abu Abdillah A. bin Muhammad Asy Syihy, Dialog Bersama Ikhwani, hlm. 16-20)</p>
<p>Hasan al Banna mengutarakan titik temu yang terlihat baginya antara salaf dan khalaf agar kaum muslimin dapat menarik manfaat dari kesimpulannya dan tidak fanatik terhadap kelompok mereka. Titik temu tersebut meliputi, pertama, kedua kelompok sepakat dalam menyucikan Allah swt dari penyerupaan dengan makhlukNya. Kedua, keduanya sepakat maksud kata-kata dalam teks alQuran dan hadis tentang Allah swt bukanlah yang tersurat seperti jika diperuntukkan kepada makhluk. Hal itu berpengaruh pada sikap sepakat mereka untuk meniadakan tasybih (penyerupaan dengan makhluk). Ketiga, kedua pihak mengetahui lafal itu diletakkan untuk mengungkapkan sesuatu yang tebersit dalam benak dari hal-hal yang berhubungan dengan (pemilik) bahasa.</p>
<p>Jika demikian, kata al Banna, secara prinsip antara salaf dan khalaf sebenarnya sepakat pada keharusan ta’wil. Perbedaan keduanya hanyalah karena khalaf menambahkan pembatasan makna yang dikandung dengan tetap menjaga kesucian Allah swt yang maksudnya menjaga akidah orang awam dari terjerumus ke dalam tasybih. Perbedaan semacam itu sebenarnya tidak sampai melahirkan guncangan (Hasan al Banna, Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin Jilid II, hlm 264-265).</p>
<p>Terlihat al Banna menganggap ringan perbedaan kedua mazhab itu dan itulah yang beliau pahami sesuai penelitiannya. Apakah hal itu memiliki landasan dari ulama terdahulu?</p>
<p>Berkata Imam asy Syatibi dalam al I’tisham, “Salah satu ikhtilaf terbesar adalah seperti penetapan sifat. Jika kita teliti maksud dari kedua kelompok itu (salaf dan khalaf), kita dapati masing-masing berkeyakinan melindungi kesucian, menafikan kekurangan dan meninggikan derajatNya. Perbedaan mereka hanya pada metode yang ditempuh dan hasilnya tidak mengurangi niat suci mereka sama sekali. Jadi, perbedaan itu kadarnya seperti perbedaan masalah furu’ saja” (A. Halim Hamid, Ibnu Taimiyah, Hasan al Banna dan IM, hlm. 142).</p>
<p>Itulah Imam asy Syatibi! Ungkapannya mirip sekali dengan kesimpulan Hasan al Banna; hanya beda gaya penulisannya. Asy Syatibi mengatakan-seperti al Banna-bahwa salaf dan khalaf sepakat menyucikan Allah swt dari unsur tasybih dan kekurangan. Kata kunci yang membedakan dua mazhab itu: salaf itsbat tanpa tasybih dan ta’wil, sedangkan khalaf men-ta’wil dalam batas-batas syara’, logika, maupun bahasa.</p>
<p>Ibnu Taimiyah berkata dalam Majmu’ al Fatawa, “Adapun perbedaan-perbedaan lain seperti khilaf dalam ragam atau khilaf dalam memahami lafal serta ungkapan merupakan khilaf yang ringan. Hal itu banyak terjadi dalam masalah-masalah khabariyah (keyakinan).” (Ibid, hlm 43). Adapula al ‘Allamah al Wahity as Salafy ash Shufi (wafat 712 H)-dijuludi, “junaid pada masanya’ (Junaid adalah ulaam sufi yang salafi dan diakui Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qoyyim)-yang mencairkan perbedaan antara salaf dan khalaf dalam risalah berjudul an Nashihah (Yusuf al Qaradhawy, 70 Tahun IM, hlm. 304)</p>
<p>Oleh karena itu, penilaian al Banna bahwa perbedaan salaf dan khalaf hanyalah perbedaan ringan merupakan pemahaman para Imam Rabbani masa lalu yang pandai memahami dan menempatkan masalah pada tempatnya sesuai kadar urgensi dan hajjiyat-nya. Sesuai neraca ilmu, mereka memandang masalah secara jernih dan sehat, tidak menyamaratakan semua masalah adalah urgen, primer, besar dan ushul karena di sana ada masalah yang memang sekadar biasa dan tidak perlu dibesar-besarkan seperti yang besar tidak perlu diringan-ringankan.</p>
<p>Sebenarnya dibalik kesimpulan al Banna itu tersimpan niat mulia, yaitu ingin umat Islam tidak berpecah belah dengan meributkan perbedaan salaf dan khalaf yang sebenarnya tidak seberapa dibandingkan permasalahan besar yang ada pada masa itu. (Dalam kalimat terakhir pembahasan, Ia berkata: “Hal paling penting untuk diarahkan ka kaum muslimin sekarang adalah penyatuan barisan dan menyatukan kalimat sedapat yang kita lakukan”). Lagi-lagi, al Banna tidak berbeda pandangan denan para ulama muhaqqiq (peneliti) masa lalu yang antusias membangun, bukan menghancurkan dan menyatukan, bukan mencerai-beraikan.</p>
<p>Membongkar Kedustaan</p>
<p>Dusta terhadap al Banna</p>
<p>Kaum jufat rela menodai diri, ilmu dan agamanya demi mencapai ambisinya, yaitu memisahkan generasi dakwah dari arus besar. Berdusta pun rela, asal tujuan tercapai agar tidak ada lagi manusia mau mendekati dan menelaah karya-karya al Banna dan fikrahnya. Namun, dengan karunia Allah ‘Azza wa Jalla, upaya itu terbongkar dengan mudah.</p>
<p>Dalam buku kecil, Dialog Bersama Ikhwani, penulisnya telah menempatkan ucapan al Banna tidak pada tempat dan maksudnya. Kami berharap itu tidak mencerminkan akhlak mereka keseluruhan. Sesungguhnya al Banna berkata dalam al Aqaid, “Hal yang paling penting untuk menjadi arah perhatian kaum muslimin sekarang adalah penyatuan kalimat sedapat yang kita lakukan.”</p>
<p>Penulis Dialog Bersama Ikhwani, yaitu Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad asy Syihi telah memanipulasi kalimat al Banna. Kalimat itu dianggapnya sebagai isyarat keinginan al Banna menyatukan berbagai sekte dalam Islam dengan Ahlussunnah, termasuk Nashrani! Subhanallah!</p>
<p>Seandainya orang itu mau jujur, ikhlas, cerdas dan takut kepada Allah swt, tentu ia tidak usah sampai berbohong seperti itu. Teks ucapan al Banna ini – bagi yang membaca secara utuh dari awal hingga akhirnya – ada ketika beliau sedang membicarakan polemik antara paham salaf dan khalaf mengenai asma’ was shifat. Kalimat itu adalah nasihat dari beliau kepada kaum muslimin untuk tidak memperpanjang lagi polemik karena yang terpenting adalah persamaan persepsi dan amal soleh yang produktf, bukan pergolakan furu’iyah ringan seperti yang dikatakan Imam Syatibi dan Ibnu Taimiyah. Jadik bisikan dari mana yang membuat Abu Abdillah menjadikan ucapan al Banna sebagai bukti untuk menguatkan tuduhannya yang tidak ilmiah itu bahwa al Banna mencoba menyatukan berbagai aliran yang menyimpang? Seperti biasa, al haq akan sulit ditemukan bagi orang yang memiliki penyakit di dalam hatinya.<br />
Wallahu a’lam</p></div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/salafiharoki.wordpress.com/33/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/salafiharoki.wordpress.com/33/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafiharoki.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafiharoki.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafiharoki.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafiharoki.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafiharoki.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafiharoki.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafiharoki.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafiharoki.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafiharoki.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafiharoki.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiharoki.wordpress.com&blog=2578131&post=33&subd=salafiharoki&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/29/hasan-al-banna-menyimpang-dalam-aqidah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8f4fd5bf5b7b77812a9720c1f49e48fb?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">salafiharoki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fatwa Syaikh Abdullah bin Humaid Tentang Bomb Syahid</title>
		<link>http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/26/fatwa-syaikh-abdullah-bin-humaid-tentang-bomb-syahid-2/</link>
		<comments>http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/26/fatwa-syaikh-abdullah-bin-humaid-tentang-bomb-syahid-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jan 2008 18:04:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>salafiharoki</dc:creator>
				<category><![CDATA[fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[raddusy syubuhat]]></category>
		<category><![CDATA[bomb syahid]]></category>
		<category><![CDATA[jihad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafiharoki.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Di suatu sore hari, pada tahun 1400 H, pada saat Syaikh Abdullah bin Humaid rahimahullahu Ta’ala –mantan Hakim Agung di Makkah Al-Mukarramah– sedang memberikan ceramah di samping pintu masuk ke sumur Zamzam di dekat Ka’bah Al-Musyarrafah, ada seseorang yang bertanya tentang hukum aksi bom syahid. Orang tersebut berkata, “Wahai Syaikh yang mulia, apakah hukumnya dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiharoki.wordpress.com&blog=2578131&post=25&subd=salafiharoki&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Di suatu sore hari, pada tahun 1400 H, pada saat Syaikh Abdullah bin Humaid rahimahullahu Ta’ala –mantan Hakim Agung di Makkah Al-Mukarramah– sedang memberikan ceramah di samping pintu masuk ke sumur Zamzam di dekat Ka’bah Al-Musyarrafah, ada seseorang yang bertanya tentang hukum aksi bom syahid. Orang tersebut berkata, “Wahai Syaikh yang mulia, apakah hukumnya dalam Islam jika ada seorang muslim yang mengenakan seperangkat peledak, kemudian dia menyusup ke dalam sekumpulan musuh kaum muslimin dan meledakkan dirinya dengan maksud untuk membunuh sebanyak mungkin dari musuh tersebut?”<span id="more-25"></span><br />
Syaikh menjawab, “Alhamdulillah, sesungguhnya aksi individu seorang muslim  yang membawa seperangkat bahan peledak, kemudian dia menyusup ke dalam barisan musuh dan meledakkan dirinya dengan maksud untuk membunuh musuh sebanyak mungkin dan dia sadar bahwa dia adalah orang yang pertama kali terbunuh; saya katakan; bahwa perbuatan yang dilakukannya adalah termasuk bentuk jihad yang disyariatkan. Dan, insya Allah orang tersebut mati syahid.” (Dikutip dari Al-‘Amaliyyat Al-Istiyhadiyyah fi Al-Mizan Al-Fiqhiy/DR. Nawaf Hail Takruri/hlm 101-102/penerbit Dar Al-Fikr, Beirut/Cetakan kedua edisi revisi/1997 M –1417 H.)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/salafiharoki.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/salafiharoki.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafiharoki.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafiharoki.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafiharoki.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafiharoki.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafiharoki.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafiharoki.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafiharoki.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafiharoki.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafiharoki.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafiharoki.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiharoki.wordpress.com&blog=2578131&post=25&subd=salafiharoki&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/26/fatwa-syaikh-abdullah-bin-humaid-tentang-bomb-syahid-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8f4fd5bf5b7b77812a9720c1f49e48fb?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">salafiharoki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah Jilbab Bagi Muslimah Tidak Wajib?</title>
		<link>http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/26/apakah-jilbab-bagi-muslimah-tidak-wajib/</link>
		<comments>http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/26/apakah-jilbab-bagi-muslimah-tidak-wajib/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jan 2008 17:08:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>salafiharoki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[raddusy syubuhat]]></category>
		<category><![CDATA[jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[nisa]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/24/apakah-jilbab-bagi-muslimah-tidak-wajib/</guid>
		<description><![CDATA[Apakah Berjilbab Termasuk Masalah Ijtihadi Dalam Syari’ah Islam Sehingga Kedudukannya Menjadi Relatif?
Di akhir zaman ini banyak orang yang berani berfatwa dengan menabrak kesepakatan para ulama, keluar dari kaidah belajar ilmu fiqh yang disepakati, mencari pendapat-pendapat yang syadz (nyleneh), yang bagi orang yang benar-benar mempelajari fiqh tidak tertutup lobang-lobang kelemahan mereka, semua ini mereka lakukan hanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiharoki.wordpress.com&blog=2578131&post=30&subd=salafiharoki&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><b>Apakah Berjilbab Termasuk Masalah Ijtihadi Dalam Syari’ah Islam Sehingga Kedudukannya Menjadi Relatif?</b></p>
<p>Di akhir zaman ini banyak orang yang berani berfatwa dengan menabrak kesepakatan para ulama, keluar dari kaidah belajar ilmu fiqh yang disepakati, mencari pendapat-pendapat yang syadz (nyleneh), yang bagi orang yang benar-benar mempelajari fiqh tidak tertutup lobang-lobang kelemahan mereka, semua ini mereka lakukan hanya demi memuaskan orang-orang kafir bahwa Islam itu toleran, mengikuti zaman, padahal kelemahan pendapat mereka itu amat sangat mereka sadari.<span id="more-30"></span></p>
<p>Mirisnya lagi hal tersebut dilakukan oleh orang-orang yang katanya bergelar doktor atau bahkan profesor, lalu diajarkan dengan penuh semangat di universitas-universitas yang sebagian besar (tidak seluruhnya) para pengajarnya belajar dari negara-negara sekular dan kuffar, atau ada pula yang belajar dari negara Islam tapi pada orang-orang yang sudah nyleneh pula dan dikenal menjadi kolaborator kuffar.</p>
<p>Salah satu dari fatwa yang demikian itu adalah bahwa Jilbab itu tidak wajib, atau merupakan masalah ijtihadiyah, atau masalah khilafiyyah, sehingga dalil hukumnya bersifat relatif dan tidak mengikat, demikianlah salah satu igauan mereka di siang-bolong, yang jika kita teliti fatwa-fatwa mereka itu nampaklah pemutar-balikan fakta di mana-mana, perancuan dalil yang shahih dengan yang dha’if, memaksakan diri menggunakan tafsir bir ra’yil qabih/tafsir dengan logika yang sesat (karena ada juga tafsir yang bir ra’yi shahih/logika tapi terbimbing oleh wahyu), dan mereka ini secara sengaja menjauhi tafsir bil ma’tsur (tafsir menggunakan dalil, karena akan menghancurleburkan semua pijakan mereka itu), mereka juga menggunakan kaidah ushul-fiqh secara terbalik-balik sesuai hawa nafsu mereka sendiri, dll.</p>
<p>Yang kesemuanya itu hanya menunjukkan ashabiyyah (fanatisme) terhadap syahwat dan taqdis (pengkultusan) kepada akal secara berlebihan, yang kesemuanya ini merupakan ciri sebagian aliran mu’tazilah-jadidah (neo-rasionalis) yang kemudian sayap radikalnya bermuara kepada aliran liberal yang menyempal jauh dari ajaran Islam, merupakan mazhab sempalan dalam ajaran Islam, sebagaimana mazhab Syi’ah maupun Khawarij.</p>
<p>Salah satu ciri kelompok ini adalah pernyataan mereka bahwa dalam syariat Islam kebenaran sebuah pandangan adalah relatif karena semuanya adalah ijtihad, maka setiap orang berhak untuk memilih mana yang menurutnya benar.. Inna liLLLAAHi wa inna ilayhi raji’un! Dari mana munculnya igauan seperti ini?! Coba tunjukkan referensi yang mu’tabar (diakui sebagai referensi syari’ah) yang menyebutkannya?! Kecuali referensi para orientalis atau murid-muridnya, maka tidak ada jumhur-ulama yang mengakuinya kecuali kalangan orientalis dan para pengikut-pengikutnya, semoga mereka diberi hidayah sehingga kembali ke jalan Islam yang lurus, aamiin..</p>
<p><b>1. Makna Penutup Aurat dan Jilbab</b></p>
<p>a. Aurat dalam bahasa Arab bermakna keburukan manusia[1], atau celah/kekurangan[2], adapun menurut syari’ah didefinisikan sebagai apa-apa yang diwajibkan untuk ditutupi dan diharamkan untuk dipandang[3].</p>
<p>b. Jilbab berbeda dengan kerudung (khumur)[4], karena jilbab adalah baju kurung yang panjang/jubah[5] yang digunakan agar menutupi seluruh yang di bawahnya. Ia merupakan kain yang diselubungkan di atas kerudung[6], atau sejenis kain selubung/semacam mantel (milhafah)[7].</p>
<p><b>2. Aurat Wanita Yang Wajib Ditutup Dalam Al-Qur’an</b></p>
<p>a. Yang Wajib Berjilbab Bukan Hanya Istri Nabi Saja:</p>
<p class="arabic">يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ<br />
الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ<br />
أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا<br />
رَحِيمًا</p>
<p>“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu dan ALLAAH adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[8]</p>
<p>Berkata Imam At-Thabari bahwa maknanya, ALLAAH SWT berfirman pada nabi SAW: Hai Nabi, katakan pada istrimu, anak-anak-mu dan wanita muslimah: Janganlah kalian menyerupai wanita-wanita lain dalam cara berpakaiannya (yatasyabbahna bil ima’i fi libasihinna) yaitu dengan membiarkan rambut dan wajah terbuka, melainkan tutup semua itu dengan jilbab[9]; berkata Imam Ibnu Katsir bahwa maknanya: ALLAAH SWT menyampaikan kepada Nabi-NYA agar memerintahkan kepada semua wanita muslimah agar menjaga kehormatan mereka dan agar mereka berbeda dengan cara berpakaiannya wanita jahiliyyah yaitu hendaklah gunakan jilbab[10]; berkata Imam Asy-Syaukaniy bahwa ayat ini sabab-nuzulnya adalah berkenaan dengan peristiwa keluarnya Saudah RA yang dicela oleh Umar RA, lalu turun ayat ini yang membolehkan wanita keluar rumah untuk suatu kepentingan asal mereka menutup jilbabnya[11].</p>
<p>b. Ayat Ini Tidak Ada Kaitannya Dengan Haditsul ‘Ifki</p>
<p>Di antara salah satu kedunguan mereka dan tidak berilmunya mereka dan guru-guru mereka, adalah kata-kata mereka bahwa asbab-nuzul ayat ini berkaitan dengan peristiwa haditsul-’ifki pada Ummul Mu’minin Aisyah RA.. Laa hawla walaa quwwata illa biLLAAH.. Persis sebagaimana dalam pepatah Arab dikatakan: Saarat Musyarriqah wa sirta Mugharriban, Syattaana baynal Musyarriq wa Mugharrib (Ia berjalan ke Timur tapi engkau malah berjalan ke Barat, Ketahuilah sungguh amat jauh jaraknya antara Timur dan Barat itu). Sebagaimana kita ketahui bahwa peristiwa Al-’Ifki itu turun berkenaan dengan QS An-Nuur[12], tidak ada hubungannya dengan QS Al-Ahzab, karena surah Al-Ahzab turun berkenaan dengan itu, melainkan berkenaan dengan bantahan kepada orang-orang Munafiq Madinah seperti Ibnu Ubay, dll yang didatangi tokoh-tokoh Quraisy Makkah ba’da perang Uhud, lalu mereka takut Nabi SAW akan mengetahui mereka, lalu turun surah ini untuk meneguhkan Nabi SAW dan membantah mereka[13].</p>
<p>c. Ayat ini Tidak Bisa Menggunakan Kaidah Fiqh: Al-’Ibratu Bikhushushi Sabab La Bi Umumi Lafzh (Hukum itu Berdasarkan Khususnya Sebab Bukan Umumnya Lafzh)</p>
<p>Salah satu bentuk kerancuan berfikir mereka menyimpangkan kaidah secara tidak benar untuk mengelabui orang-orang bodoh (karena memang hanya orang bodoh saja yang tertarik pada pendapat mereka), bahwa sudah jelas-jelas ayat tersebut menyatakan: Qul Li Azwajika wa Banatika wa Nisa’il Mu’mina (Katakan pada istrimu, anakmu dan PARA WANITA MUSLIMAH..), lalu tiba-tiba mereka bicara tentang kaidah berdasarkan khususnya sabab saja, lha kepriben tho mas?! Sudah menjelaskan sabab-nuzulnya aja sudah ngawur di atas, lalu bertambah ngawur lagi dalam menggunakan kaidah ini sementara khithab ayat ini bersifat umum dan tidak bisa di-takhshish.. Mengapa mereka sampai berfikir dengan kaidah terbalik-terbalik demikian?! Karena kebohongan dan tidak menjaga amanah ilmiah, sudah mendarah-daging dalam diri mereka dan diajarkan juga oleh guru-guru mereka, sehingga memutar-balik hukum, dalil dan ayat tidak menjadi masalah buat mereka, yang penting hawa-nafsu mereka terpuaskan, kalau perlu mengambil dalil fiqh dan hadits dari kitab sastra juga tak apa, yang penting berargumen dengan Kitab Kuning supaya nampak “pinter”, kalau ada yang ngerti lalu mengecek dan menunjukkan letak salahnya, cukup mereka katakan saja: maaf salah tulis, kan beres, lalu cari lagi kitab lainnya, siapa tahu tidak ketahuan belangnya, na’udzu biLLAAHi min dzalik…</p>
<p>d. Saat Turun Ayat Jilbab ini Para Shahabat Wanita Langsung Melaksanakannya Tanpa Banyak Alasan dan Keberatan</p>
<p>Berkata Ibnu Abi Hatim, telah menceritakan kepada kami Abu AbdiLLAAH Azh-Zhahraniy, dari apa yang ditulisnya untukku, telah menceritakan kepadaku AbduRRAZZAQ, telah menceritakan kepadaku Ma’mar, dari Ibnu Khutsaim, dari Shafiyyah binti Syaibah, dari Ummu Salamah berkata: “Semoga ALLAAH SWT merahmati para wanita Anshar, pada saat turun ayat ini[14] maka keluarlah semua wanita Anshar seolah-seolah di kepala-kepala mereka ada burung Gagak (Al-Ghirban), karena jilbab yang mereka kenakan dengan bahan yang seadanya yang mereka temui saat itu juga.”[15]</p>
<p><b>3. Aurat Wanita Dalam As-Sunnah</b></p>
<p>a. Hadits Pertama:</p>
<p>لا يقبل الله صلاة حائض إلا بخمار</p>
<p>“Tidak diterima shalat wanita yang sudah haidh (baligh –pen) kecuali menggunakan khimar (kerudung).”[16]</p>
<p>b. Hadits Kedua:</p>
<p class="arabic">أن أسماء بنت أبي بكر دخلت على النبي ( صلى الله عليه وسلم ) في ثياب<br />
رقاق فأعرض عنها وقال: يا أسماء إن المرأة إذا بلغت المحيض لم يصلح أن<br />
يرى منها إلا هذا وهذا . وأشار إلى وجهه وكفيه</p>
<p>“Sesungguhnya Asma’ binti Abibakr (saat itu ia masih remaja –pen) masuk ke tempat Nabi SAW menggunakan pakaian yang menampak samar-samar bayang-bayang kulit di bawahnya, maka Nabi SAW berpaling darinya sambil bersabda: Wahai Asma’ sesungguhnya wanita itu jika sudah haidh tidak boleh nampak bagian tubuhnya kecuali ini dan ini, beliau SAW memberi isyarat pada wajah dan tapak tangannya.”[17]</p>
<p>c. Hadits Ketiga:</p>
<p class="arabic">صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ<br />
كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ<br />
عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ<br />
الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ<br />
رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا</p>
<p>“Ada 2 kelompok manusia penghuni neraka yang belum pernah kulihat (saat beliau SAW hidup –pen), yang pertama laki-laki yang memegang cambuk seperti ekor sapi yang kerjanya memukuli manusia dengannya; yang kedua wanita yang berpakaian tetapi telanjang kalau jalan berlenggang-lenggok menggoda rambutnya seperti punuk unta, 2 kelompok ini tidak masuk Syurga dan tidak bisa mencium bau Syurga, padahal baunya tercium dari jarak sekian dan sekian (jarak yang amat jauh –pen).”[18]</p>
<p><b>4. Aurat yang Wajib Ditutup Menurut Madzhab Yang Empat</b></p>
<p>a. Menurut Madzhab Hanafi: Aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan 2 telapak tangannya[19], oleh karenanya kepala wanita adalah aurat yang harus ditutup[20]. Bahkan berkata Imam Hanafi: Kewajiban menutup aurat di depan manusia sudah menjadi ijma’ (konsensus semua ulama), demikian pula saat ia shalat walaupun shalatnya sendirian, maka seandainya saja ada orang yang melakukan shalat dalam keadaan sendirian tidak menutup aurat sekalipun di tempat yang amat gelap-gulita padahal ia memiliki pakaian yang dapat menutupinya maka shalatnya batal[21].</p>
<p>b. Menurut Madzhab Maliki: Aurat wanita di depan sesama wanita muslimah adalah sama dengan aurat laki-laki dengan sesama laki-laki (yang tidak boleh terlihat hanya antara pusar sampai lutut -pen)[22], aurat wanita di depan laki-laki muslim adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan 2 tapak tangannya, aurat wanita di depan laki-laki kafir adalah seluruh tubuhnya termasuk wajah dan 2 tapak tangannya[23]. Berkata Imam Malik: Jika seorang wanita merasa wajahnya atau tapak tangannya demikian indahnya sehingga ia amat kuatir orang yang melihatnya terkena fitnah maka baik ia tutup bagian tersebut (dengan cadar misalnya –pen)[24].</p>
<p>c. Menurut Madzhab Syafi’i[25]: Aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan 2 tapak tangannya[26], yaitu tapak tangannya yang bagian atas maupun yang bagian bawahnya bukan termasuk aurat, tapi dalam masalah ini madzhab kami ada 2 qaul, namun berkata Al-Muzni bahwa yang kuat ia bukan termasuk aurat[27]. Telapak kaki wanita termasuk aurat[28], bagi banci yang menurut kedokteran dominan sifat wanitanya maka auratnya sama dengan aurat wanita[29]. Berkata Imam Syafi’i: Bukan hanya batas aurat-nya[30] saja yang harus ditutup, melainkan tidak cukup aurat tersebut ditutupi oleh pakaian yang menutupi seluruhnya jika ia masih ketat/membentuk tubuh[31].</p>
<p>d. Menurut Madzhab Hanbali: Ada 2 qaul[32], yang pertama menyatakan bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuhnya sampai ke kuku-kukunya[33] berdasarkan hadits riwayat Tirmidzi: Al-Mar’atu ‘aurah (wanita itu aurat), dan qaul kedua dikecualikannya wajah dan 2 tapak tangan berdasar hadits larangan bagi wanita menutup keduanya saat Ihram[34], juga sesuai dengan makna ayat “maa zhahara minha (kecuali yang biasa nampak)”[35] maka wajah dan 2 tapak tanganlah makna ayat tersebut karena keduanya tidak mungkin ditutup untuk mengenali orang saat berbisnis dsb[36], ada juga yang menambahkan kedua tapak kaki[37].</p>
<p>e. Tarjih wal Mulahazhat: Sebab dari adanya perbedaan pendapat ini adalah dalam menafsirkan ayat QS An-Nur di atas. Apakah maknanya ada yang boleh nampak atau maknanya tidak ada yang boleh nampak bagi wanita. Jumhur fuqaha berpendapat wajah dan 2 tapak tangan bukan aurat bagi wanita (Imam Hanafi menambahkan tapak kaki wanita bukan aurat), sementara Abubakar bin AbduRRAHMAN dan satu qaul dari Imam Ahmad berpendapat bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat.</p>
<p>Mereka yang berpendapat bahwa tidak ada yang biasa nampak untuk wanita dan menyatakan seluruh tubuhnya adalah aurat, berdalil dengan menafsirkan ayat ini dengan ayat di surah Al-Ahzab di atas (tafsirul Qur’an bil Qur’an). Adapun kelompok yang menyatakan adanya pengecualian wajah dan 2 tapak tangan berdalil dengan wajibnya membuka kedua hal ini saat hajji berdasar hadits-hadits shahih, dan pendapat yang kedua ini lebih kuat waLLAAHu a’lam bish Shawaab.</p>
<p>Demikian wahai para wanita muslimah –rahimakumuLLAAH-, jadi bukan menggunakan pendekatan logika atau pendekatan kultural Arab, antropologi, sosiologi dan yang semacamnya yang tentu saja bisa berbeda-beda, rambut sama hitam pendapat bisa berbeda. Melainkan semuanya itu &#8211; jika kita bicara syari’ah &#8211; harus berdasarkan dalil dan di-istinbath menggunakan metode ilmu syari’ah yang benar dan bukan metode kirata (dikira-kira tapi nyata).</p>
<p>Dan yang demikian ini jika kita masih menganggap Al-Qur’an itu adalah firman ALLAAH SWT yang terjaga dari kesalahan, dan Hadits Shahih adalah sabda Nabi SAW yang ma’shum lepas dari hawa-nafsu. Kecuali jika kita anggap Al-Qur’an seperti koran harian yang bisa direaktualisasi atau hadits Nabi SAW setara dengan ucapan Nietsche atau Juergen Habermas, maka sungguh aku berlindung pada ALLAAH SWT dari hal yang demikian bagi diriku sendiri dan seluruh keturunanku, fa ayna tadzhabina ayyuhal muslimah..???</p>
<p>___<br />
<b>Catatan Kaki:</b></p>
<p>[1] Lih. Ash-Shihaah Fil Lughah, II/5; Tahdzib Al-Lughah, I/367</p>
<p>[2] Lih. Lisanul Arab, IV/612; Tajul Arus, I/3257</p>
<p>[3] Lih. Al-Fiqh Al-Islamiy, I/738</p>
<p>[4] Tafsir Ibnu Katsir, VI/481</p>
<p>[5] Kamus Al-Munawwir, bab Ja-la-ba, hal 199</p>
<p>[6] Demikianlah pendapat para mufassir seperti Ibnu Mas’ud, Ubaidah, Qatadah, Hasan Al-Bashri, Said bin Jubair, Ibrahim An-Nakha’i, Atha’ Al-Khurasaniy.</p>
<p>[7] Lih. Ash-Shihaah, I/101; demikian pendapat Al-Jauhary berdasarkan sya’ir seorang tokoh wanita dari suku Hudzail: “Berjalanlah ia seorang diri dengan lalai.. Yaitu dengan telanjang (hanya berkerudung saja –pen) tanpa berjilbab.”</p>
<p>[8] QS Al-Ahzab, 33:59</p>
<p>[9] Tafsir At-Thabari, XX/324</p>
<p>[10] Tafsir Ibnu Katsir, VI/481</p>
<p>[11] Tafsir Durrul Mantsur, VIII/208, hadits ini juga diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, Al-Baihaqi dan Ibnu Sa’d</p>
<p>[12] Shahih Bukhari, no. 2314, 6633 dan Muslim, no. 1697</p>
<p>[13] Lih. Asbab Nuzulil Qur’an, Al-Wahidi, I/126; Lih. Juga Tafsir Munir, Az-Zuhayli, XI/247</p>
<p>[14] QS Al-Ahzab, 33:59</p>
<p>[15] Lih. Tafsir AbduRRAZZAQ, II/101; ada riwayat lain yang menjadi syawahid atas hadits ini yang diriwayatkan Al-Hasan bin Muslim, dari Shafiyyah binti Syaibah, dari A’isyah RA (Lih. Shahih Bukhari, no. 4759)</p>
<p>[16] HR Abu Daud no. 164; Tirmidzi, II/215-216; Ibnu Majah no. 655; Ibnu Abi Syaibah, II/28; Al-Hakim, I/251; Al-Baihaqi, II/233; Ahmad, VI/150; Di-shahih-kan oleh Albani dalam Al-Irwa’, I/214</p>
<p>[17] HR Abu Daud, II/138, hadits ini dha’if tapi ada syahid dari hadits Asma’ binti Umays RA dari Al-Baihaqi, VII/76, sehingga menjadi hasan, lih. Al-Irwa’, VI/203</p>
<p>[18] HR Muslim, XIV/229 hadits no. 5704 (Imam Muslim sampai menamai babnya ini dengan nama: “Wanita2 yang Berpakaian Tapi Telanjang”); Al-Baihaqi, II/234; Ahmad, II/355</p>
<p>[19] Al-Ikhtiyar Li Ta’lil Al-Mukhtar, I/4</p>
<p>[20] Al-Mabsuth, II/64</p>
<p>[21] Raddul Mukhtar, I/375</p>
<p>[22] Mawahib Al-Jalil fi Syarh Mukhtashar Syaikh Khalil, IV/16</p>
<p>[23] Asy-Syarhul Kabir Li Syaikh Ad-Dardir, I/214</p>
<p>[24] Mawahib Al-Jalil fi Syarh Mukhtashar Syaikh Khalil, IV/24</p>
<p>[25] Imam Az-Zayadi Asy-Syafi’i dalam Syarhul Muharrar menyebutkan 4 jenis aurat bagi wanita: Pertama, aurat saat shalat yaitu kecuali wajah dan 2 tapak tangan; Kedua, aurat pandangan dari orang laki-laki yaitu semuanya termasuk lelaki dilarang memandangi secara terus-menerus wajah dan tangan wanita; Ketiga, aurat di depan suami atau saat sendirian yaitu sama dengan aurat laki-laki (kecuali pusar dan lutut); Keempat, aurat di depan orang kafir yaitu seluruh tubuhnya (Lih. Hawasyi Asy-Syairaziy, II/112).h</p>
<p>[26] Al-Majmu’, III/167</p>
<p>[27] Raudhatut Thalibin wa ‘Umdatul Muftin, I/104</p>
<p>[28] Al-Umm, I/109</p>
<p>[29] Fathul Wahhab, I/88</p>
<p>[30] Aurat ada yang mughalazhah (aurat besar) yaitu 2 kemaluan dan ada yang ghairu-mughalazhah (aurat kecil), keduanya harus ditutup</p>
<p>[31] Al-Qawanin Al-Fiqhiyyah, hal. 54</p>
<p>[32] Menurut Abul Ma’aliy Al-Hanbali, aurat anak sbb: 1) Sblm 6 tahun semuanya bisa dilihat, 2) Setelah 6 th yang boleh dilihat rambut, betis dan lengan (ada juga yang menyatakan seluruh tubuhnya kecuali 2 kemaluan), 3) Setelah 10 tahun sama dengan setelah baligh (lih. Al-Furu’ Libni Muflih, I/476).</p>
<p>[33] Ibid.</p>
<p>[34] Asy-Syarhul Kabir, I/458</p>
<p>[35] QS An-Nur, 24/31</p>
<p>[36] Al-Iqna’, I/113</p>
<p>[37] Al-Furu’ Libni Muflih, I/476</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/salafiharoki.wordpress.com/30/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/salafiharoki.wordpress.com/30/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafiharoki.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafiharoki.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafiharoki.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafiharoki.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafiharoki.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafiharoki.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafiharoki.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafiharoki.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafiharoki.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafiharoki.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiharoki.wordpress.com&blog=2578131&post=30&subd=salafiharoki&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/26/apakah-jilbab-bagi-muslimah-tidak-wajib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8f4fd5bf5b7b77812a9720c1f49e48fb?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">salafiharoki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fatwa Syaikh Al-Allamah Shalih bin Ghanim As-Sadlan Mengenai Bom Syahid</title>
		<link>http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/26/fatwa-syaikh-al-allamah-shalih-bin-ghanim-as-sadlan-mengenai-bom-syahid/</link>
		<comments>http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/26/fatwa-syaikh-al-allamah-shalih-bin-ghanim-as-sadlan-mengenai-bom-syahid/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jan 2008 04:21:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>salafiharoki</dc:creator>
				<category><![CDATA[fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[raddusy syubuhat]]></category>
		<category><![CDATA[bomb syahid]]></category>
		<category><![CDATA[jihad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafiharoki.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman berkata, Sesudah menjelaskan keharaman aksi bom bunuh diri ini dari Syaikh Shalih bin Ghanim As-Sadlan mengatakan, Kemudian kita datang kepada beberapa gambaran dari aksi-aksi bunuh diri, yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dengan tujuan memancing kemarahan musuh.
Walaupun perbuatan ini tidak memajukan atau memundurkan, tetapi dengan banyaknya aksi-aksi ini bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiharoki.wordpress.com&blog=2578131&post=28&subd=salafiharoki&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman berkata, Sesudah menjelaskan keharaman aksi bom bunuh diri ini dari Syaikh Shalih bin Ghanim As-Sadlan mengatakan, Kemudian kita datang kepada beberapa gambaran dari aksi-aksi bunuh diri, yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dengan tujuan memancing kemarahan musuh.</span><span id="more-28"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Walaupun perbuatan ini tidak memajukan atau memundurkan, tetapi dengan banyaknya aksi-aksi ini bisa jadi akan melemahkan musuh atau membuat takut mereka. Aksi-aksi bunuh diri ini berbeda dari pelaku yang satu dengan pelaku yang lainnya. Kadang-kadang orang yang melakukan aksi bom bunuh diri ini terpengaruh oleh orang-orang yang membenarkan perbuatan ini, maka dia melakukannya dengan niat berperang, berjihad dan membela suatu keyakinan. Jika yang dibela benar, dan dia melakukannya dengan landasan pendapat orang yang membolehkannya maka bisa jadi dia tidak dikatakan bunuh diri; karena dia berudzur dengan apa yang dia dengar.( Koran Al-Furqon Kuwait, 28 Shafar, edisi 145, hal. 21 dengan perantaraan Salafiyyun wa Qadhiyatu Filisthin,hal. 62.)</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"><br />
</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/salafiharoki.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/salafiharoki.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafiharoki.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafiharoki.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafiharoki.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafiharoki.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafiharoki.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafiharoki.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafiharoki.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafiharoki.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafiharoki.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafiharoki.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiharoki.wordpress.com&blog=2578131&post=28&subd=salafiharoki&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/26/fatwa-syaikh-al-allamah-shalih-bin-ghanim-as-sadlan-mengenai-bom-syahid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8f4fd5bf5b7b77812a9720c1f49e48fb?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">salafiharoki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fatwa Syaikh Salman Al Audah Tentang Operasi Bom Syahid</title>
		<link>http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/25/fatwa-syaikh-salman-al-audah-tentang-operasi-bom-syahid/</link>
		<comments>http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/25/fatwa-syaikh-salman-al-audah-tentang-operasi-bom-syahid/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jan 2008 13:42:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>salafiharoki</dc:creator>
				<category><![CDATA[fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[raddusy syubuhat]]></category>
		<category><![CDATA[bom syahid]]></category>
		<category><![CDATA[salman audah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafiharoki.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan:
&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;
Assalamu&#8217;alaikum Wr Wb. Fadhilatu Syaikh, telah banyak pembicaraan dan perdebatan seputar operasi mati syahid. Telah diselenggarakan berbagai seminar, diskusi dan ditulis berbagai pendapat serta berbagai selebaran dicetak antara yang pro dan yang kontra, yang semangat dan yang minder dan bimbang. Masing-masing pendapat mempunyai pendukungnya sehingga kita melihat dan mendengar suatu
keanehan!! Pada akhir-akhir ini dikeluarkan beberapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiharoki.wordpress.com&blog=2578131&post=27&subd=salafiharoki&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Pertanyaan:<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
Assalamu&#8217;alaikum Wr Wb. Fadhilatu Syaikh, telah banyak pembicaraan dan perdebatan seputar operasi mati syahid. Telah diselenggarakan berbagai seminar, diskusi dan ditulis berbagai pendapat serta berbagai selebaran dicetak antara yang pro dan yang kontra, yang semangat dan yang minder dan bimbang. Masing-masing pendapat mempunyai pendukungnya sehingga kita melihat dan mendengar suatu<br />
keanehan!! Pada akhir-akhir ini dikeluarkan beberapa pendapat dari sebagian ulama yang tentunya ada pengaruhnya. Fadhilatu Syaikh, kami berharap supaya anda memberikan penjelasan kepada kami mengenai persoalan berikut ini.<span id="more-27"></span></p>
<p>Jawaban:<br />
&#8212;&#8212;&#8211;<br />
Wassalamu&#8217;alaikum wr wb<br />
Persoalan yang disebut dengan operasi mati syahid termasuk persoalan kontemporer yang barangkali idak akan anda dapati nashnya dalam kitab-kitab para fuqoha dulu. Hal itu karena persoalan ini termasuk bentuk perlawanan baru yang muncul setelah adanya bahan peledak dan kemajuan tehnologinya. Masalah ini seringkalinya menjadi salah satu bagian dari apa yang disebut dengan perang urat saraf yang dijalani oleh sebuah kelompok yang siap berkorban dan beraksi cepat.<br />
Pentingnya perlawanan semacam ini telah nampak pada perang lokal Amerika dan pada perang dunia kedua dan setelahnya. Selanjutnya menjadi salah satu bagian dari aturan perang yang dikaji di institut-institut dan akademi-akademi perang. Dalam konteks lebih khusus, kaum muslimin butuh<br />
perlawanan semacam ini karena beberapa faktor berikut:</p>
<p>*- A.    Sifat siap berjuang, berkorban dan cinta mati syahid yang sudah menjadi tabiat mereka serta murahnya nilai kehidupan bagi mereka jika ia hina, maka mati secara mulia lebih baik bagi mereka daripada hidup dalam keadaan hina.</p>
<p>*- B.    Apa yang dirasakan oleh mereka di sejumlah nergara kaum muslimin dari kekejaman yang dilakukan musuhnya dan keberaniannya terhadap mereka karena memandang mereka terbelakang dalam hal ilmu pengetahuan, tehnologi dan peradaban sekaligus musuh mereka unggul dari segi ini.<br />
Sehingga jadilah negara-negara Islam santapan bagi kaum imperalis dan penjajah. Dan inilah yang kita saksikan di bumi Palestina, di Kashmir, di Chehcnya, di Afghanistan ditambah<br />
wilayah-wilayah Islam lain yang sebelumnya di bawah cengkraman Uni Soviet.</p>
<p>*- C.    Sulitnya ditemukan altenatif lain bagi mereka. Oleh karena ini, muncul banyak pertanyaan tentang operasi semisal ini yang oleh sebagian kalangan menyebutnya dengan operasi mati syahid sebagai isyarat membolehkan sesuai syariat. Sedang kalangan lain menyebutnya dengan operasi<br />
bunuh diri sebagai isyarat melarangnya atau sekedar ikut-ikutan media massa.</p>
<p>Dalam persoalan ini, para fuqoha telah berselisih pendapat antara melarang dan mengijinkan sesuai pandangan dan pendapat kuat yang nampak pada mereka. Dengan merujuk beberapa kondisi yang berupa pada nash-nash syar&#8217;i dan peristiwa-peristiwa dalam sejarah, kita dapati apa yang barangkali sedikit memberi kepuasan dalam perkara ini.</p>
<p>1-) Dalam Musnad Abi Sya&#8217;ibah dari Muhammad bin Ishaq dari &#8216;Ashim bin Muhammad bin Qotadah berkata: Berkata Muadz bin Afra, Wahai Rasulullah, apa yang bisa membuat Robb tertawa terhadap hamba-Nya? Beliau bersabda: Dia menerjunkan diri di tengah musuh sendirian. Lalu orang itu<br />
melemparkan baju besi yang dipakainya dan maju berperang hingga akhirnya terbunuh. Dishahihkan oleh Ibnu Hizam pada Muhalla juz 7 hal 294. Disebutkan oleh Imam Thobari dalam Tarikh-nya juz 2 hal 33 dari Auf bin Harits yaitu Ibnu Afra. Demikian pada Siroh Ibnu Hisyam juz 3 hal 175.</p>
<p>2-) Ibnu Hazm telah meriwayatkan pada Muhalla yang sama dari Abi Ishaq As-Suba&#8217;i berkata: Aku mendengar seorang laki-laki bertanya kepada Barro&#8217; bin &#8216;Azib: Apa pendapatmu sekiranya ada seseorang sendirian menyerang batalyon musuh padahal mereka berjumlah seribu orang, apakah ia<br />
berarti menjerumuskan dirinya pada kebinasaan (bunuh diri, red)? Barro&#8217; menjawab: Tidak, namun yang disebut kebinasaan adalah seseorang melakukan dosa lalu menjerumuskan dirinya seraya berkata: tidak ada lagi taubat bagi saya. Ibnu Hazm berkata: Abu Ayyub Al-Anshary maupun Abu Musa Al-Asy&#8217;ari tidak mengingkari seseorang yang menyerang sendirian ke tengah pasukan yang banyak dan bertahan hingga terbunuh.</p>
<p>3-) Kisah Abu Ayyub di Kostantinopel terkenal dan sudah masyhur. Dalam kisah tersebut disebutkan ada seorang laki-laki dari kaum muslimin menyerang barisan pasukan Romawi hingga mampu menerobos ke tengah-tengah mereka. Lalu manusia berteriak seraya berkata: Subhanallah, ia tengah menjerumuskan dirinya pada kebinasaan? Maka Abu Ayyub berdiri seraya berkata: Wahai manusia,<br />
sesungguhnya kalian telah memalingkan ayat pada ta&#8217;wil seperti ini. Sesungguhnya ayat itu turun pada kami, kalangan Anshar. Ketika Allah telah memenangkan Islam dan telah banyak orang-orang yang membelanya. Maka sebagian kami berkata lirih kepada sebagian lain tanpa Rasulullah:<br />
Sesungguhnya harta kita telah lenyap dan Allah telah memenangkan Islam serta telah banyak menolongnya, sekiranya kita kumpulkan lagi harta kita sehingga kita dapat memperbaiki harta kita yang telah lenyap. Maka Allah menurunkan ayat ini kepada Nabi-Nya……hingga akhir hadits. Hadits ini terdapat pada Sunan Turmudzi no 2898. Ia berkata: Hadits ini hasan shahih gharib. Juga diriwayatkan oleh Abi Daud no 2151.</p>
<p>4-) Sebagaimana diriwayatkan oleh para ahli sejarah dan Ibnul Mubarok dalam kitab Al Jihad juz 1 hal 134, tentang kisah Barro&#8217; bin Malik melemparkan dirinya ke tengah-tengah kaum murtad dari bani Hanifah. Pada beberapa sumber seperti Siyar juz 1 hal 196 serta yang lainnya disebutkan<br />
bahwa Barro&#8217; menyuruh rekan-rekannya untuk mengangkatnya di atas perisai dengan ujung-ujung<br />
tombak mereka lalu melemparkannya ke dalam benteng maka Barro&#8217; pun menerobos mereka, mengamuk dan menyerang hingga akhirnya ia dapat membuka pintu gerbang benteng. Pada hari itu ia mendapatkan 80 lebih luka-luka. Maka Kholid menugaskan seseorang pada hari itu untuk merawat luka-lukanya. Semisal hal ini terdapat pada kitab Tsiqot-nya Ibnu Hibban juz 2 hal 175, Tarikh Thobari juz 2 hal 281 serta yang lainnya. Mirip dengan ini adalah kisah Barro&#8217; radliyallahu anhu dengan bertutup muka.</p>
<p>5-) Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibi Ishaq, saya berkata kepada Barro&#8217;: Seseorang menyerang ke tengah-tengah kaum musyrikin, apakah ia termasuk orang yang melemparkan dirinya pada kebinasaan? (bunuh diri, pent) Barro&#8217; menjawab: Bukan, karena Allah Azza wa Jalla membangkitkan Rasulullah<br />
SAW seraya berfirman: &#8220;Maka berperanglah kamu di jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri.&#8221; (An Nisa: 84). Sesungguhnya hal itu hanyalah berkenaan dengan infaq. (maksudnya, orang yang tidak mau berinfaq fi sabilillah).</p>
<p>6-) Pada Shohih Muslim rohimahullah dari hadits Shuhaib yang panjang dan terkenal, disebutkan pemuda yang tidak sanggup mereka bunuh berkata kepada raja: &#8220;Anda tidak akan bisa membunuhku sampai anda melaksanakan apa yang saya perintahkan.&#8221; Raja bertanya: &#8220;Apa itu?&#8221; Ia menjawab:<br />
&#8220;Anda kumpulkan manusia di satu tempat lalu saliblah saya pada sebuah batang kemudian ambil satu anak panah dariku. Lalu letakkan anak panah itu di tengah busur kemudian ucapkan: Bismillah robbil Ghulam, dengan menyebut nama Allah Robbnya pemuda. Lalu panahlah aku. Jika anda telah<br />
melakukan itu, maka anda baru dapat membunuhku,&#8221; hadits. Dalam hadits tersebut diceritakan, raja melaksanakan apa yang diperintahkan pemuda lalu pemuda itupun meninggal. Maka manusia mengatakan: &#8220;Kami beriman kepada Robbnya pemuda. Kami beriman kepada Robbnya pemuda. Kami<br />
beriman kepada Robbnya pemuda.&#8221; Hadits tersebut terdapat pada Musnad No:22805 dan yang lainnya. Pemuda ini telah menunjukkan kepada raja tentang cara yang dapat membuat ia terbunuh. Kemudian dijalankan oleh raja sehingga terwujudlah maslahat umum yang besar dengan anak panah yang dilemparkan kepada pemuda itu dimana semua manusia menjadi beriman kepada Allah setelah sampai kepada mereka berita tentang pemuda dan karomah yang Allah perlihatkan kepadanya.</p>
<p>7-) Dalam hadits Abu Sa&#8217;id Al Khudhry, berkata: Bersabda Rasulullah SAW: &#8220;Orang-orang yang berada di front terdepan ketika perang lalu tidak menolehkan mukanya hingga terbunuh, maka mereka itu mendiami kamar-kamar tertinggi di jannah. Robb mereka tertawa kepada mereka. Sesungguhnya jika Robbmu tertawa kepada suatu kaum maka tidak ada hisab lagi bagi mereka.&#8221;<br />
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Sya&#8217;ibah juz 4 hal 569, Thobroni, Abu Ya&#8217;la, Ibnul Mubarok dalam Al Jihad, Abu Nu&#8217;aim dalam Hilyah serta yang lain. Al Mundzir berkata: perowi-perowinya tsiqoh.</p>
<p> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8-)' class='wp-smiley' /> Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Mudrik bin &#8216;Aus Al Ahmasi, berkata: Saya berada pada Umar ra lalu mengatakannya. Di situ disebutkan: &#8220;Wahai Amirul mukminin, ada seorang laki-laki yang mengorbankan dirinya sendiri.&#8221; Maka Mudrik bin Auf berkata: &#8220;Demi Allah<br />
orang itu adalah pamanku wahai Amirul Mukminin. Orang-orang menganggap dia telah mencampakkan<br />
dirinya pada kebinasaan.&#8221; Maka Umar berkata: &#8220;Dusta mereka. Melainkan ia termasuk orang yang membeli akhirat dengan dunia.&#8221;</p>
<p>9-) Berkata Muhammad bin Hasan Asy Syaibani dalam Siyar juz 1 hal 163: Adapun orang yang yang menerjang musuh berarti ia telah berusaha memenangkan dien dan akan menghadapi mati syahid untuk mendapatkan kehidupan abadi. Lantas bagaimana ia (dikatakan) mencampakkan diri pada kebinasaan? Kemudian ia berkata: Tak mengapa seseorang melakukan serangan sendirian sekalipun ia menduga akan terbunuh jika ia melihat dirinya dapat berbuat sesuatu lalu terbunuh, terluka atau kalah. Hal itu telah dilakukan sejumlah kalangan sahabat di hadapan Rasulullah SAW pada perang Uhud.</p>
<p>Dan beliau memuji mereka. Dikatakan kepada Abu Hurairah: Tidakkah anda melihat Sa&#8217;ad bin Hisyam ketika bertemu antara dua pasukan, ia menerjang lalu menyerang hingga terbunuh. Ia telah mencampakkan dirinya pada kebinasaan. Abu Hurairah berkata: Sekali-kali bukan. Namun ia telah<br />
mempraktekkan satu ayat dalam kitabullah, Wa minannaasi man yasyrii nafsahu ibtighooa mardhotillah. (Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena memburu keridhoan Allah). (Al Baqarah: 207). Adapun jika ia mengetahui tidak dapat menjatuhkan korban pada mereka, maka tidak boleh ia menerjang ke mereka karena tindakannya itu tidak menghasilkan sesuatu yang kembali kepada upaya memenangkan dien. Akan tetapi ia hanya terbunuh saja. Sedang Allah telah berfirman: &#8220;Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri&#8221;. Jika ia tidak menjatuhkan<br />
korban sehingga tidak memberikan faedah yang dimaksud, maka ia tidak perlu maju untuk itu.</p>
<p>10-) Al Hafidz Ibnu Hajar pada persoalan satu orang melakukan serangan kepada sejumlah besar musuh menyebutkan, jumhur secara tegas menyatakan bahwa jika hal itu didorong oleh keberaniaannya yang kelewat dan ia menduga musuh akan keder dengan tindakannya itu atau dapat membangkitkan keberanian kaum muslimin menghadapi musuh maupun tujuan-tujuan benar semisal itu<br />
maka tindakannya tersebut BAGUS. Sedang jika hal itu sekedar tindakan ngawur maka dilarang.<br />
Apalagi jika hal itu menimbulkan kelemahan kaum muslimin. Lihat Subulu Salam juz 2 hal 473.</p>
<p>11-) Ibnu Hajar mensyaratkan hal itu pada Hasyiah Dasuqi juz 2 hal 208 dengan dua hal:<br />
a-) Tujuannya demi meninggikan kalimat Allah.<br />
b-) Ia menduga dapat memberikan efek pada mereka.</p>
<p>12) Ibnul Aroby menyebutkan pada juz 1 hal 166, pendapat yang benar adalah boleh satu orang maju menghadapi sejumlah besar kaum kuffar, karena di situ ada empat sisi:<br />
a-) Memburu mati syahid.<br />
b-) Mewujudkan kerugian.<br />
c-) Membangkitkan keberanian kaum muslimin menghadapi mereka.<br />
d-) Lemahnya jiwa musuh karena mereka akan melihat hal itu hanyalah tindakan seorang saja dari kaum muslimin, lah bagaimana bayanganmu kalau semuanya???</p>
<p>13) Ibnu Taimiyyah berkata pada Inshof juz 4 hal 116: Disunnahkan terjun ke tengah musuh demi  adanya kemaslahatan kaum muslimin. Namun jika tidak ada, maka dilarang karena termasuk membinasakan diri. Pada kebanyakan nash-nash dan riwayat ini diperhatikan tentang adanya seorang laki-laki atau beberapa orang yang berangkat dari sekelompok kaum muslimin dan kamp mereka menuju sasaran musuh. Namun pada sebagian nash tadi sebagaimana pada kisah pemuda mukmin, tidak demikian.  Pendapat yang kuat dari sekumpulan nash tadi Wallahu a&#8217;lam, boleh menjalankan operasi semacam yang ditanyakan ini. Yakni, operasi mati syahid atau bom mati syahid, pent. Dengan<br />
syarat-syarat yang disimpulkan dari perkataan para Fuqoha. Diantaranya yang terpenting yaitu;<br />
a) Hal itu dilakukan demi meninggikan kalimat Allah.<br />
b) Ada dugaan kuat atau yakin, bahwa hal itu mengakibatkan kerugian di pihak musuh dengan korban tewas, luka-luka, kekalahan, atau membangkitkan keberanian kaum muslimin terhadap musuh atau melemahkan mental mereka ketika melihat bahwa itu hanyalah tindakan satu orang maka bagaimana kalau semuanya melakukan hal sama.Menentukan hal ini tidak mungkin diserahkan kepada setiap person orang dan individu mereka. Lebih-lebih pada kondisi manusia seperti hari ini. Namun harus dikeluarkan dari orang-orang berpengalaman, menguasai dan mengerti kondisi dari segi militer dan politik, dari kalangan pejuang Islam dan wali-walinya.<br />
c) Hal itu dilakukan dalam rangka melawan kaum kuffar yang telah mengumumkan perang terhadap kaum muslimin. Sebab kaum kuffar itu ada beberapa macam: diantara mereka ada orang-orang kafir muharib, (yakni yang memposisikan diri sebagai lawan kaum muslimin, pent), ada juga orang-orang<br />
kafir musalim, yang menyerah atau tunduk, ada orang kafir musta&#8217;man, yang minta diberi jaminan keamanan, ada orang-orang kafir dzimmi, (yakni yang hidup dan tunduk patuh di bawah kekuasaan Daulah Islam dengan membayar jizyah sebagai ganti jaminan keamanan hidup). Di antara mereka ada orang kafir muahid (yang terikat perjanjian dengan kaum muslimin dan masih setia dengan perjanjiannya).  Kekafiran tidak secara mutlak membolehkan mereka dibunuh bahkan dalam sebuah hadits shahih sebagaimana pada Shahih Bukhari no 2930 dari Abdullah bin Amru dari Nabi saw bersabda: &#8220;Barangsiapa membunuh muahid (orang kafir yang masih setia dengan perjanjian dengan kaum muslimin) maka ia tidak akan mencium bau surga padahal bau wangi surga itu dapat tercium dari perjalanan 40 tahun.&#8221; Diriwayatkan oleh Nasai, Ahmad, Ibnu Majah dan yang lain.<br />
d) Operasi itu dilakukan di negara mereka atau di negara yang mereka masuki, mereka serobot dan mereka kuasai dan kaum muslimin hendak melakukan perlawanan terhadap mereka dan mengusirnya. Seperti Yahudi di Palestina, Rusia di Chechnya dimana memungkinkan untuk dijalankan operasi ini<br />
terhadap mereka dengan syarat-syarat di atas.</p>
<p>Barangsiapa menjalankan operasi ini sesuai syarat-syarat yang telah diakui secara syar&#8217;I maka dengan ijin Allah ia syahid jika niatnya benar. Sesungguhnya amal itu dinilai sesuai niatnya. Orang itu dido&#8217;akan dan semoga Allah merahmatinya. Dan dibolehkan menyerahkan dana guna operasi ini dari baitul mal atau dari zakat karena ia termasuk fi sabilillah atau dari sumber-sumber yang lain. Ijtihad dalam bab ini terbuka dimana bisa salah bisa benar. Tetapi kaum muslimin bertaqwa kepada Allah sesuai dengan kemampuannya.</p>
<p>Wallahu A&#8217;lam.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/salafiharoki.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/salafiharoki.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafiharoki.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafiharoki.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafiharoki.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafiharoki.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafiharoki.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafiharoki.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafiharoki.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafiharoki.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafiharoki.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafiharoki.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiharoki.wordpress.com&blog=2578131&post=27&subd=salafiharoki&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/25/fatwa-syaikh-salman-al-audah-tentang-operasi-bom-syahid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8f4fd5bf5b7b77812a9720c1f49e48fb?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">salafiharoki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fatwa Syaikh Abdullah bin Humaid Tentang Bomb Syahid</title>
		<link>http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/25/fatwa-syaikh-abdullah-bin-humaid-tentang-bomb-syahid/</link>
		<comments>http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/25/fatwa-syaikh-abdullah-bin-humaid-tentang-bomb-syahid/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jan 2008 04:31:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>salafiharoki</dc:creator>
				<category><![CDATA[fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[raddusy syubuhat]]></category>
		<category><![CDATA[bomb syahid]]></category>
		<category><![CDATA[jihad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/25/fatwa-syaikh-abdullah-bin-humaid-tentang-bomb-syahid/</guid>
		<description><![CDATA[Di suatu sore hari, pada tahun 1400 H, pada saat Syaikh Abdullah bin Humaid rahimahullahu Ta’ala –mantan Hakim Agung di Makkah Al-Mukarramah– sedang memberikan ceramah di samping pintu masuk ke sumur Zamzam di dekat Ka’bah Al-Musyarrafah, ada seseorang yang bertanya tentang hukum aksi bom syahid. Orang tersebut berkata, “Wahai Syaikh yang mulia, apakah hukumnya dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiharoki.wordpress.com&blog=2578131&post=26&subd=salafiharoki&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Di suatu sore hari, pada tahun 1400 H, pada saat Syaikh Abdullah bin Humaid rahimahullahu Ta’ala –mantan Hakim Agung di Makkah Al-Mukarramah– sedang memberikan ceramah di samping pintu masuk ke sumur Zamzam di dekat Ka’bah Al-Musyarrafah, ada seseorang yang bertanya tentang hukum aksi bom syahid. Orang tersebut berkata, “Wahai Syaikh yang mulia, apakah hukumnya dalam Islam jika ada seorang muslim yang mengenakan seperangkat peledak, kemudian dia menyusup ke dalam sekumpulan musuh kaum muslimin dan meledakkan dirinya dengan maksud untuk membunuh sebanyak mungkin dari musuh tersebut?”<span id="more-26"></span><br />
Syaikh menjawab, “Alhamdulillah, sesungguhnya aksi individu seorang muslim  yang membawa seperangkat bahan peledak, kemudian dia menyusup ke dalam barisan musuh dan meledakkan dirinya dengan maksud untuk membunuh musuh sebanyak mungkin dan dia sadar bahwa dia adalah orang yang pertama kali terbunuh; saya katakan; bahwa perbuatan yang dilakukannya adalah termasuk bentuk jihad yang disyariatkan. Dan, insya Allah orang tersebut mati syahid.”</p>
<p>(Dikutip dari Al-‘Amaliyyat Al-Istiyhadiyyah fi Al-Mizan Al-Fiqhiy/DR. Nawaf Hail Takruri/hlm 101-102/penerbit Dar Al-Fikr, Beirut/Cetakan kedua edisi revisi/1997 M –1417 H.)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/salafiharoki.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/salafiharoki.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafiharoki.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafiharoki.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafiharoki.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafiharoki.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafiharoki.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafiharoki.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafiharoki.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafiharoki.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafiharoki.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafiharoki.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiharoki.wordpress.com&blog=2578131&post=26&subd=salafiharoki&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/25/fatwa-syaikh-abdullah-bin-humaid-tentang-bomb-syahid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8f4fd5bf5b7b77812a9720c1f49e48fb?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">salafiharoki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fatwa Syaikh Masyhur Hasan Salman Tentang Sayyid Qutb</title>
		<link>http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/24/fatwa-syaikh-masyhur-hasan-salman-tentang-sayyid-qutb/</link>
		<comments>http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/24/fatwa-syaikh-masyhur-hasan-salman-tentang-sayyid-qutb/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jan 2008 06:09:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>salafiharoki</dc:creator>
				<category><![CDATA[fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[raddusy syubuhat]]></category>
		<category><![CDATA[Fi Dzilalil Quran]]></category>
		<category><![CDATA[sayyid qutb]]></category>
		<category><![CDATA[Syaikh Masyhur Hasan Salman]]></category>
		<category><![CDATA[syed qutb]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/24/fatwa-syaikh-masyhur-hasan-salman-tentang-sayyid-qutb/</guid>
		<description><![CDATA[
Fadhilatusy Syaikh Masyhur Hasan Salman ditanya mengenai pendapatnya tentang Sayyid Qutb sebagaimana bisa dijumpai dalam website pribadi beliau Beliau hafidzahullah menjawab : Terdapat dua kesalahan pembicaraan mengenai Sayyid Qutb, dan ucapan ini adalah ibadah.Dan saya (meniatkan) ibadah dalam apa yang akan saya katakan.Sungguh telah salah orang yang mengkafirkan Sayyid Qutb dengan menginteraksinya yakni dengan membawa ungkapan-ungkapan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiharoki.wordpress.com&blog=2578131&post=22&subd=salafiharoki&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="postentry">
<div class="snap_preview">Fadhilatusy Syaikh Masyhur Hasan Salman ditanya mengenai pendapatnya tentang Sayyid Qutb sebagaimana bisa dijumpai dalam website pribadi beliau <a href="http://almenhaj.net/makal.php?linkid=388"></a>Beliau <i>hafidzahullah</i> menjawab : Terdapat dua kesalahan pembicaraan mengenai Sayyid Qutb, dan ucapan ini adalah ibadah.Dan saya (meniatkan) ibadah dalam apa yang akan saya katakan.Sungguh telah salah orang yang mengkafirkan Sayyid Qutb dengan menginteraksinya yakni dengan membawa ungkapan-ungkapan beliau yang (sebenarnya) tidak merusak keadaan beliau.Dan sebuah buku berisikan pengkafiran Sayyid Qutb, maka ini adalah bentuk kedzaliman terhadap beliau.Dan diantara kedzaliman terhadapnya adalah membawa lafadz-lafadz Sayyid Qutb padahal sesungguhnya tidak menciderai keadaan beliau.Bahkan dari kedzaliman juga terhadap Sayyid Qutb dengan menginteraksi dan menghukumi lafadz-lafadz serta ungkapan Sayyid dengan ungkapan serta istilah-istilah para ulama (definisi keilmuan syariat).Hanya saja seharusnya kita menghukuminya dengan ungkapan dan istilah kesusasteraan.Disanalah ada dua perbedaan besar antara dua hal.<span id="more-22"></span></p>
<p><span></span><br />
Sayyid Qutb dalam bukunya berkata tentang Rabb kita ‘<i>azza wa jalla</i> dengan ungkapan <i>“Risyatul Kauni Al-Mubdi’ah”</i> (Pena  yang mencipta alam semesta).Dan berkata juga tentang Rabb kita dengan ungkapan <i>“Muhandisul Kauni Al-A’dzom”</i>(Arsitek alam yang maha agung).Maka engkau lihat bagaimana Sayyid Qutb mensifati Allah dengan “Pena yang mencipta”.Apakah Sayyid berkeyakinan bahwa Allah itu pena? Dan apakah Allah itu seorang arsitek yang disisinya ada peralatan teknik? Tentu tidak.</p>
<p>Maka siapa yang mengkafirkan Sayyid Qutb karena menurut persangkaannya Sayyid itu mengatakan bahwa Allah adalah pena,ini adalah kedzaliman terhadapnya.Oleh karenanya siapa yang mengkafirkan Sayyid Qutb berarti dia menghukumi ungkapan-ungkapannya dengan istilah para ulama.Sayyid Qutb adalah seorang sustrawan dan bukan ulama.Dan pemahaman akan hal seperti ini cukup melegakan kita.Dan kami menyingkatnya dari pembahasan yang panjang serta luas.Dan (yang seperti diatas) ini bagian dengki dalam mendudukkan Sayyid Qutb</p>
<p>Dan menurut kami ada bagian lain dari anggapan terhadap Sayyid dengan ucapan yang diharamkan.Dan amat celaka bagi yang berbicara tentangnya, dengan berkata :Sayyid melakukan demikian dan demikian……Kami katakan, “Apa yang telah dilakukannya adalah bagi dirinya!?”.Dan kami memohon kepada Allah agar menerimanya dan Allah lah yang maha luas bijaknya dari seluruh hakim.</p>
<p>Akan tetapi yang penting adalah apa yang dia telah tulis dan segala sesuatunya selayaknya diluruskan.Dan kewajiban terhadap pelurusan ini dapat ditemui pada saudara nya yakni Al-Ustadz Muhammad Qutb.Beliau telah mencetak buku-buku saudaranya (Sayyid Qutb) dan dalam catatan-catatan kakinya dia berikan komentar-komentar akan penjelasan kesalahan-kesalahan Sayyid Qutb.Dan juga dijelaskan bahwa maksud Sayyid bukan demikian dan demikian.Maka sekarang kami lega dari extrimnya para kaum kafir dan dari takwilnya para pentakwil yang tidak mau (jujur) berkata bahwa Sayyid Qutb telah tersalah dalam perkataannya.</p>
<p>Dan saya memandang bahwa hal seperti ini adalah hal yang wajib, meskipun para ulama telah menulis kesalahan-kesalahan Sayyid Qutb,kitab -kitab beliau masih tersebar dan tidak sampai pelurusan-pelurusan yang disampaikan ahli ilmu.Diantaranya seperti apa yang ditulis Asy-Syaikh Rabi’ dan selainnya dengan bahasa ilmu (syariat) serta kritikan para ulama tidak sampai (dimengerti) semua orang, terutama bagi para pengagum Sayyid Qutb.</p>
<p>Sayyid Qutb menulis (kitab-kitabnya) dengan perasaannya, dan menulis dengan kiasan,dan menulis dengan ungkapan-ungkapan sastra sehingga (tentu) terdapat hal-hal yang berlawanan dengan bahasa ulama (definis syariat).Kita berbicara dalam (bahasan) tauhid, bahwa Sayyid Qutb mengingkari bahwa Allah ber-istiwa (bersemayam) diatas <i>Arsy</i>-nya.Dimana Sayyid berkata istiwa dengan makna istawlaa (menguasai).Dan ini adalah kesalahan besar.Bahkan dia ingkari dengan takwilnya.Juga dapat ditemui dalam kitab Sayyid Qutb ungkapan-ungkapan keras mengenai sahabat (Nabi <i>shalallahu ‘alaihi wasalam</i>) terkhusus Amr bin Ash dan Muawiyah,misalnya dalam <i>“Kutub Syakhshiat”</i> (hal 242) berkata “Tatkala Muawiyah dan sahabatnya cenderung kepada kedustaan,kecurangan, bertipu muslihat,nifaq, suap,jual beli darah, (maka) Ali tidaklah memiliki kemampuan sampai pada tingkatan terendah seperti ini”. Ini adalah ungkapan yang berbahaya sekali terhadap sahabat Rasulillah <i>shalalllahu ‘alaihi wasalam</i> dan tidak akan mengatakannya orang yang paham tentang aqidah serta mengetahui bahwa kewajiban kita adalah menahan diri dari perselisihan yang terjadi dikalangan sahabat Rasulillah <i>shalallahu ‘alaihi wasalam</i> sebagaimana datang dalam hadist “<i>Idzaa dzakaro ashhabii fa amsikuu</i>” (Apabila disebutkan tentang sahabatku maka tahanlah).Adapun disifatinya Muawiyah dan Anr dengan dusta dan curang serta penipu, maka kami berlepas diri menyerahkannya kepada Allah akan urusan ini.</p>
<p>Juga dalam kitabnya <i>“Al-’Adalah Al-Ijtimaiyah”</i>(hal 172) Sayyid mensifati khalifah yang terbimbing Ustman bahwa dia celah antara hukum Abu Bakr ,Umar dan Ali.Dan dalam halaman 159,Sayyid berkata (Telah berubah keadaan pada zaman kekuasaan Ustman ,meskipun masih dalam pagar islam).Bahkan juga Sayyid berkata ( Ali datang untuk membantah gambaran islam dalam hukum kepada jiwa-jiwa penguasa dan manusia) Maka pernyataan ini seolah-olah Ustman tidak berhukum dengan islam ,dan ungkapan seperti ini keras dan kami tidak menerimanya.</p>
<p>Maka salahlah siapa yang mengkafirkan Sayyid Qutb dan juga salah orang yang membiarkan atau membaikkan.Dan selayaknya kita berani agar orang-orang yang bodoh tidak lancang (keblablasan),terhadap Sayyid.Maka kita jelaskan dengan mengatakan, ini salah dan itu salah serta maksudnya demikian dan demikian agar batu di wajahnya bagi yang mengkafirkan sayyid qutb.Dan meletakkan sesuatu pada tempat-tempatnya.Maka dalam berlebihan terhadap Sayyid dan berlebihan dalam kebencian terhadapnya.Dan kebanyakan para syabab (pemuda) hari ini sangat disayangkan ,dimana mereka belajar agama Allah dan tumbuh bersama kitab-kitab Sayyid Qutb padahal tidak didapati pada kitab-kitab Sayyid ilmu syar’iy (yang mencukupi).Maka adalah yang pokok bagi para pemuda ini agar mengokohkan diri dalam ilmu syariat.Maka selayaknya mereka menerima KItab dan Sunnah.Dan inilah menurut saya pada permasalahan ini.Semoga Allah memberikan taufiq kepada antum akan kebaikan dan menjauhkan saya serta antum kejelekan -kejelekan dan kemungkaran</p></div>
</div>
<p>ما رأيك في سيد قطب؟<br />
الشيخ مشهور حسن ال سلمان</p>
<p>السؤال 363: ما رأيك في سيد قطب؟</p>
<p>سيد قطب في كتبه يقول عن ربنا عز وجل &#8220;ريشة الكون المبدعة&#8221; ويقول أيضا ًعن ربنا &#8220;مهندس الكون الأعظم&#8221; فيا ترى لما يقول سيد عن ربنا الريشة المبدعة، هل يظن سيد أن الله ريشة؟ وهل يظن انه مهندس عنده أنه مهندس عنده أدوات هندسية؟ قطعاً لا، فمن يكفر سيد لأنه يظن أن سيد يعتقد أن الله ريشة، هذا ظلم لسيد قطب، ولذا من كفر سيد قطب فإنه يحاكم ألفاظه باصطلاحات العلماء، وسيد قطب من الأدباء وليس من العلماء، ولو نفهم فقط هذا الأمر لارتحنا، وهذا يقصر علينا مسافة واسعة، وهذا فريق غلا في الحط على سيد.</p>
<p>وعندنا فريق آخر اعتبر سيد قطب منطقة محرمة، والويل كل الويل لمن تكلم عليه، فيقول : سيد فعل وفعل&#8230;. نقول: ما فعله له، ونسأل الله أن يتقبله وهو أفضى إلى أحكم الحاكمين.</p>
<p>لكن الخطورة فيما كتب وفيما كتب أشياء ينبغي أن تقوم، وأوجب الواجبات في تقويم ما كتب يلقى عاتق أخيه الأستاذ محمد قطب، وياليت محمد قطب يطبع كتب أخيه وفي هوامشه تعليقات فيها بيان لأخطاء سيد قطب، ويبين أنه ليس مراده كذا وكذا، فحينئذ نرتاح من غلو الكافرين ونرتاح من تاويل المأولين الذين لا يريدون أن يقولوا إن سيد قد وقع في كلامه خطأ، وانا أرى أن هذا واجباً فمهما كتب العلماء في أخطاء سيد قطب، تبقى كتبه شائعة، ولا يصل التقويم الذي كتبه أهل العلم، من أمثال الشيخ ربيع وغيره، بلغة العلم ونقد العلماء، لا يصل إلى كل الناس، لاسيما المعجبين بسيد قطب.</p>
<p>فسيد قطب كتب بعاطفة ،وكتب بتجوز، وكتب بعبارات الأدباء، فوقعت في كتبه أشياء مرودوة، مرفوضة بلغة العلماء. ونحن نتكلم عن التوحيد فسيد ينكر ان يكون الله استوى على عرشه، ويقول استوى بمعنى استولى، وهذا خطأ كبير، بل ينكر العرش ويأوله ،ويوجد في كتب سيد قطب عبارات شديدة حول الصحابة، لاسيما عمرو بن العاص ومعاوية، فمثلاً في كتابه &#8220;كتب وشخصيات&#8221; (242) يقول: (وحين يركن معاوية وزميله إلى الكذب والغش والخديعة والنفاق والرشوة وشراء الذمم لايملك علي أن يتدلى إلى هذا الدرك الأسفل)، فهذه عبارات خطيرة جداً، في أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم ولا يقولها من يعرف العقيدة، ويعلم أن الواجب علينا أن نكف عما شجر بين أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم فكما جاء في الحديث: {إذا ذكر أصحابي فأمسكوا}، أما أن يوصف معاوية وعمر بالكذب والغش والخديعة فنبرأ إلى الله من هذا، وفي كتابه &#8220;العدالة الاجتماعية&#8221; (172) يصف حكم الخليفة الراشد عثمان بأنه فجوة بين حكم أبي بكر وعمر وبين علي، وفي ص 159، يقول عن حكم عثمان: (تغير شيء ما على عهد عثمان، وإن بقي في سياج الإسلام)، بل يقول: (جاء علي ليرد التصور الإسلامي للحكم إلى نفوس الحكام والناس) فكأن عثمان ما كان يحكم بالإسلام، وهذه عبارات شديدة لا نرضاها.</p>
<p>فمن يكفر سيد قطب مخطئ، ومن يسوغ ويبرر لسيد أخطاؤه مخطئ، وينبغي ان نكون جريئين كي لا نجرئ السفهاء، على سيد، فنصرح ونقول: هذا خطأ وهذا خطأ ومراده كذا كي تكون حجراً في وجه من يكفر سيد قطب، ونضع الأشياء في اماكنها ففي سيد غلو في الحب وغلو في البغض، وكثير من شباب اليوم للأسف يتعلمون دين الله وينشأون على كتب سيد قطب، وكتب سيد قطب لا  يوجد فيها علم شرعي، فيها خواطر وعواطف وأدب، وليس علماً شرعياً، فالأصل في الشباب أن يتأصلون في العلم الشرعي، من خلال كتب الأئمة والفقهاء والعلماء، فينبغي أن يكون الإقبال على الكتاب والسنة وهذا ما عندي في هذه المسألة وفقني الله وإياكم للخيرات وجنبني وإياكم الشرور والمنكرات</p>
<p>الجواب: سيد قطب أخطأ فيه اثنان، واقول هذا عبادة، وأعبد الله عز وجل فيما أقول: فقد أخطأ في سيد قطب من كفره، وقد عامله وحمل عباراته ما لايخطر بباله ولواحد كتاب في تكفير سيد قطب، وهذا ظلم له، فمن الظلم له أن نحمل ألفاظه ما لا يخطر في باله، بل من الظلم لسيد قطب أن نعامله وأن نحاكم ألفاظه وعباراته بعبارات واصطلاحات العلماء، وإنما نحاكمها بعبارات واصطلاحات الادباء، وهناك فرق كبير بين الأمرين..</p>
<p>Terjemahan dari blog salafy itb:</p>
<p>http://salafyitb.wordpress.com/2007/08/21/antara-kedzaliman-dan-pelurusan-sayyid-qutb/</p>
<p>Teks asli:</p>
<p><a href="http://almenhaj.net/makal.php?linkid=388">http://almenhaj.net/makal.php?linkid=388</a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/salafiharoki.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/salafiharoki.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafiharoki.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafiharoki.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafiharoki.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafiharoki.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafiharoki.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafiharoki.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafiharoki.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafiharoki.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafiharoki.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafiharoki.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiharoki.wordpress.com&blog=2578131&post=22&subd=salafiharoki&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/24/fatwa-syaikh-masyhur-hasan-salman-tentang-sayyid-qutb/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8f4fd5bf5b7b77812a9720c1f49e48fb?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">salafiharoki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fatwa Samahah al-Syeikh ‘Abdul ‘Aziz Aali al-Syeikh, Mufti Saudi tentang Syed Qutb r.h dan kitabnya Fi Zilal al-Quran (Tarikh 24/6/1426 H-2/8/2005 M)</title>
		<link>http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/24/fatwa-samahah-al-syeikh-%e2%80%98abdul-%e2%80%98aziz-aali-al-syeikh-mufti-saudi-tentang-syed-qutb-rh-dan-kitabnya-fi-zilal-al-quran-tarikh-2461426-h-282005-m/</link>
		<comments>http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/24/fatwa-samahah-al-syeikh-%e2%80%98abdul-%e2%80%98aziz-aali-al-syeikh-mufti-saudi-tentang-syed-qutb-rh-dan-kitabnya-fi-zilal-al-quran-tarikh-2461426-h-282005-m/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jan 2008 04:26:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>salafiharoki</dc:creator>
				<category><![CDATA[fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[raddusy syubuhat]]></category>
		<category><![CDATA[sayyid qutb]]></category>
		<category><![CDATA[syed qutb]]></category>
		<category><![CDATA[Syeikh Abdul Aziz Aali al-Syeikh]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir Fi Dzilalil Quran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/24/fatwa-samahah-al-syeikh-%e2%80%98abdul-%e2%80%98aziz-aali-al-syeikh-mufti-saudi-tentang-syed-qutb-rh-dan-kitabnya-fi-zilal-al-quran-tarikh-2461426-h-282005-m/</guid>
		<description><![CDATA[“Wahai saudara-saudaraku, tafsir Syed Qutb – Fi Dzilal al-Quran- ialah sebuah kitab, ia bukannya tafsir (yang sebenarnya). Syed Qutb menamakannya sebagai (تحت ظلال القرآن) “dibawah lembayung al-Quran” yakni seolah-olah dikatakan kepada semua muslimin, al-Quran ini ialah peraturan untuk ummah yang mana mereka hidup di bawah lembayungnya.
Mereka meminum dari sasteranya sesuatu yang jernih bersih dan mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiharoki.wordpress.com&blog=2578131&post=21&subd=salafiharoki&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div align="justify">“Wahai saudara-saudaraku, tafsir Syed Qutb – Fi Dzilal al-Quran- ialah sebuah kitab, ia bukannya tafsir (yang sebenarnya). Syed Qutb menamakannya sebagai (تحت ظلال القرآن) “dibawah lembayung al-Quran” yakni seolah-olah dikatakan kepada semua muslimin, al-Quran ini ialah peraturan untuk ummah yang mana mereka hidup di bawah lembayungnya.<span id="more-21"></span></p>
<p>Mereka meminum dari sasteranya sesuatu yang jernih bersih dan mereka mengambil al-Quran dengan hati mereka, pasti mereka mendapati padanya ada penyembuh kepada masaalah-masaalah, penyelesaian kepada tuntutan-tuntutan, dan pemusnah keluh kesah mereka hinggalah ke akhirnya.</p></div>
<div align="justify">
Kitab (Fi Dzilal al-Quran) itu baginya uslub yang tinggi. Uslub yang ditulis oleh al-Syed (Qutb) menyebabkan sebahagian orang menyangka pada permulaan ibaratnya adanya kesyirikan, adanya celaan kepada para anbiya’ dan sebagainya… Kalaulah diulangi meneliti ibarat-ibaratnya pasti akan didapati uslubnya adalah uslub sastera yang tinggi. Akan tetapi uslub ini tidak difahami melainkan bagi orang-orang yang mendalami membaca kitabnya. Kitab (Fi Dzilal al-Quran itu) – [Rakaman tidak jelas] &#8211; tidak sunyi dari perkara-perkara yang memerlukan semakan dan pembetulan, sama seperti kitab-kitab yang lain yang juga tidak sunyi dari perkara-perkara yang memerlukan semakan dan pembetulan demikian juga kesalahan. Akan tetapi secara keseluruhannya bahawasanya penulis (Syed Qutb) telah menulisnya (Fi Dzilal al-Quran) dalam keadaan rasa ghairah dan cinta terhadap agama Islam. Disamping itu Penulis (Syed Qutb) itu, dia seorang pendidik dan peradaban umum. Maka apa yang terhasil darinya dalam tafsir ini (Fi Dzilal al-Quran) perumpamaan-perumpamaan yang banyak – [Rakaman tidak jelas]. Maka diambil darinya (Syed Qutb dan kitabnya) potongan-potongan yang bermanfaat dan noktah-noktah yang baik, adapun kesalahan dan kesilapan yang ada padanya – [Rakaman tidak jelas]- dimaafkan disebabkan kekurangan ilmu, memandangkan beliau bukanlah seorang ahli tafsir, sebaliknya beliau adalah seorang ahli dalam peradaban umum, maka perumpamaan-perumpamaan yang dibuatnya kadang-kala difahami daripadanya sebahagian manusia sebagai satu kesalahan, kerana uslub perumpamaannya tinggi daripada uslub orang yang membacanya. Kalau diulang pemerhatian berkali-kali tidak didapati padanya (Fi Dzilal al-Quran) sangkaan-sangkaan (buruk) yang ada, sebaliknya ianya adalah uslub daripada uslub-uslub yang tinggi yang saling mengurangkan (menyukarkan) kefahaman sebahagian manusia terhadapnya, barangkali juga (salah faham itu terjadi) disebabkan buruk sangka. Maka seorang muslim tidak sepatutnya – {Rakaman tidak jelas]- atas wujudnya keaiban-keaiban. Maka ambillah kebenaran dari sesiapa sahaja yang mendatangkannya. Sepatutnya seseorang mengetahui bahawasanya setiap manusia (Basyar) semua mereka adanya kekurangan dan kesalahan – [Rakaman tidak jelas]- Adapun kemaksuman itu (al-‘Ismah) hanyalah untuk kitab ALLAH dan perkataan Nabi s.a.w. Apa yang lain daripada kitab ALLAH dan al-Sunnah, maka kesalahan boleh berlaku padanya, terutamanya daripada seorang insan yang telah hidup dalam masyarakat, melihat apa yang telah terjadi, dan telah bermusafir ke Barat beberapa tahun. Cukuplah kepada kita darinya (Syed Qutb) apa yang telah dia perolehi dalam perjalannannya, sebahagian daripada potongan-potongan kalimat yang bermanfaat (ada di dalam kitab Fi Dzilal) kalau seseorang insan membacanya berulang kali, pasti dia akan melihat di dalamnya (Fi Dzilal al-Quran) kebaikan yang banyak.&#8221;</div>
<div align="justify"></div>
<div align="justify">فتوى سماحة الشيخ عبدالعزيز آل الشيخ مفتي المملكة العربية السعودية عن سيد قطب رحمه الله وكتابه في ظلال القرآن .. تاريخ الفتوى 2-8-2005السائل: أحسن الله إليكم يقول سماحة الشيخ مالفرق بين أحدية الوجود في تفسير الظلال وفكرة وحدة الوجود الضالة ؟<br />
المفتي : كيف ؟ كيف ؟ مالفرق بين ؟<br />
السائل : مالفرق بين أحدية الوجود في تفسير الظلال وفكرة وحدة الوجود الضالة ؟<br />
المفتي : يا إخواني تفسير سيد قطب في ظلال القرآن هو كتاب ليس تفسير لكنه قال تحت ظلال القرآن يعني كأنه يقول للمسلمين هذا القرآن نظام الأمة تعيش في ظلاله و استقوا من آدابه و انهلوا من معينه الصافي وأقبلوا بقلوبكم على القرآن لتجدوا فيه علاج لمشاكلكم و حل قضاياكم وتفريج همومكم إلى آخره .<br />
والكتاب له أسلوب عال في السياق أسلوب عال ، هذا الأسلوب الذي كتب به السيد كتابه قد يظن بعض الناس بادئ بدء من بعض العبارات أن فيها شركا أو أن فيها قدحا في الأنبياء أو أن وأن .. ، ولو أعاد النظر في العبارة لوجدها أسلوبا أدبيا راقيا عاليا لكن لا يفهم هذا الأسلوب إلا من تمرس في قراءة كتابه ، والكتاب [كلمة غير واضحة] لايخلو من ملاحظات كغيره لا يخلو من ملاحظات و لا يخلو من أخطاء لكن في الجملة أن الكاتب كتبه منطلق غيرة وحمية للإسلام ، والرجل هو صاحب تربية وعلوم ثقافية عامة وماحصل منه من هذا التفسير يعتبر شيئا كثير [الجملةالسابقة غير واضحة] فيؤخذ منه بعض المقاطع النافعة والمواقف الجيدة والأشياء التي أخطأ فيها يعلى [غير واضحة] عذره قلة العلم وأنه ليس من أهل التفسير لكنه صاحب ثقافة عامة وعباراته أحيانا يفهم منها البعض خطأ لأن أسلوبه فوق أسلوب من يقرأه ، فلو أعاد النظر مرارا لم يجد هذه الاحتمالات الموجود وإنما هو أسلوب من الأساليب العالية التي يتقاصر عنه فهم بعض الناس فربما أساء الظن ، والمسلم لا ينبغي [كلمة غير واضحة] على وجود المعايب ، فليأخذ الحق ممن جاء به ، ويعلم أن البشر جميعا محل التقصير والخطأ ، [كلمة غير واضحة] والعصمة لكتاب الله و لقول محمد صلى الله عليه وسلم ، ماسوى الكتاب والسنة فالخطأ محتمل فيه لاسيما من إنسان عاش في مجتمعات لها مالها وسافر للغرب سنين وإلى آخره ، لكن كفانا منه ماوجد في هذا السفر من بعض المقاطع والكلمات النافعة التي لو قرأها الإنسان مرارا لرأى فيها خيرا كثير .المحاضرة كاملة من موقع الدعوة الخيرية &#8211; كتاب التوحيد-الدرس السادس<br />
http://www.al-daawah.net/suond/saif1426/almufti/tawheed/6th.rm<br />
تاريخ المحاضرة<br />
24-6-1426 هـ<br />
2-8-2005 م</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/salafiharoki.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/salafiharoki.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafiharoki.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafiharoki.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafiharoki.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafiharoki.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafiharoki.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafiharoki.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafiharoki.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafiharoki.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafiharoki.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafiharoki.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiharoki.wordpress.com&blog=2578131&post=21&subd=salafiharoki&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/24/fatwa-samahah-al-syeikh-%e2%80%98abdul-%e2%80%98aziz-aali-al-syeikh-mufti-saudi-tentang-syed-qutb-rh-dan-kitabnya-fi-zilal-al-quran-tarikh-2461426-h-282005-m/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8f4fd5bf5b7b77812a9720c1f49e48fb?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">salafiharoki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Syaikh Al Fauzan Mengutip Tafsir Fi Dzilalil Quran</title>
		<link>http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/24/syaikh-al-fauzan-mengutip-tafsir-fi-dzilalil-quran/</link>
		<comments>http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/24/syaikh-al-fauzan-mengutip-tafsir-fi-dzilalil-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jan 2008 02:45:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>salafiharoki</dc:creator>
				<category><![CDATA[raddusy syubuhat]]></category>
		<category><![CDATA[sayyid qutb]]></category>
		<category><![CDATA[Syaikh Al Fauzan]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir Fi Dzilalil Quran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/24/syaikh-al-fauzan-mengutip-tafsir-fi-dzilalil-quran/</guid>
		<description><![CDATA[Bagi kalangan salafy ditanah air kitab fi dzilalil quran dianggap sebagai sampah, tidak layak untuk dibaca bahkan haram untuk menyentuhnya, adalah fakta bahwa Syaikh Al Fauzan salah satu anggota lajnah daimah dan salah satu tokoh yang menjadi rujukan salafy ditanah air mengutip tafsir fi dzilalil quran bahkan hal itu ditegaskan oleh beliau didalam catatan kakinya.

 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiharoki.wordpress.com&blog=2578131&post=20&subd=salafiharoki&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Bagi kalangan salafy ditanah air kitab fi dzilalil quran dianggap sebagai sampah, tidak layak untuk dibaca bahkan haram untuk menyentuhnya, adalah fakta bahwa Syaikh Al Fauzan salah satu anggota lajnah daimah dan salah satu tokoh yang menjadi rujukan salafy ditanah air mengutip tafsir fi dzilalil quran bahkan hal itu ditegaskan oleh beliau didalam catatan kakinya.<span id="more-20"></span></p>
<p><img src="http://www.islamgold.com/news_images/105.jpg" height="1716" width="428" /></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/salafiharoki.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/salafiharoki.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafiharoki.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafiharoki.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafiharoki.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafiharoki.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafiharoki.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafiharoki.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafiharoki.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafiharoki.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafiharoki.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafiharoki.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiharoki.wordpress.com&blog=2578131&post=20&subd=salafiharoki&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/24/syaikh-al-fauzan-mengutip-tafsir-fi-dzilalil-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8f4fd5bf5b7b77812a9720c1f49e48fb?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">salafiharoki</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.islamgold.com/news_images/105.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Fatwa al-Syeikh Muhammad Hasan Tentang Sayyid Qutb</title>
		<link>http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/23/fatwa-al-syeikh-muhammad-hasan-tentang-sayyid-qutb/</link>
		<comments>http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/23/fatwa-al-syeikh-muhammad-hasan-tentang-sayyid-qutb/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jan 2008 14:00:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>salafiharoki</dc:creator>
				<category><![CDATA[fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[raddusy syubuhat]]></category>
		<category><![CDATA[sayyid qutb]]></category>
		<category><![CDATA[syaikh muhammad hasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/23/fatwa-al-syeikh-muhammad-hasan-tentang-sayyid-qutb/</guid>
		<description><![CDATA[ما رأيكم في مقالات الشهيد -بإذن الله- سيد قطب لماذا أعدموني؟









Soalan : Apakah pandangan anda tentang tulisan-tulisan al-Syahid &#8211; biiznillah -Syed Qutb ?
















الجواب : (( هو قيد بكلمة (بإذن الله) والتقييد دقيق لأننا ذكرنا قبل ذلك بأنه لا ينبغي أن نحكم في الدنيا بالشهادة لأحد أبداً ولو مات بين أيدينا في ميدان القتال، وإنما نقول: [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiharoki.wordpress.com&blog=2578131&post=18&subd=salafiharoki&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div align="right"><b>ما رأيكم في مقالات الشهيد -بإذن الله- سيد قطب لماذا أعدموني؟</b></div>
<div align="right"><b></b></div>
<div align="left"><b></b></div>
<div align="left"><b></b></div>
<div align="left"><b></b></div>
<div align="left"><b></b></div>
<div align="left"><b></b></div>
<div align="left"><b></b></div>
<div align="left"><b></b></div>
<div align="left"><b></b></div>
<div align="left"><b>Soalan : Apakah pandangan anda tentang tulisan-tulisan al-Syahid &#8211; biiznillah -Syed Qutb ?</b></div>
<div align="left"><b></b></div>
<div align="left"><b></b></div>
<div align="left"><b></b></div>
<div align="left"><b></b></div>
<div align="left"><b></b></div>
<div align="left"><b></b></div>
<div align="left"><b></b></div>
<div align="left"><b></b></div>
<div align="left"><b></b></div>
<div align="left"><b></b></div>
<div align="left"><b></b></div>
<div align="left"><b></b></div>
<div align="left"><b></b></div>
<div align="left"><b></b></div>
<div align="right"><b></b></div>
<div align="right"><b></b></div>
<div align="right"><b>الجواب : (( هو قيد بكلمة (بإذن الله) والتقييد دقيق لأننا ذكرنا قبل ذلك بأنه لا ينبغي أن نحكم في الدنيا بالشهادة لأحد أبداً ولو مات بين أيدينا في ميدان القتال، وإنما نقول: نرجو الله -عز وجل- أن يكون من الشهداء وبإذن الله نرجوه أن يكون عنده من الشهداء، هذا كلام مهم جداً؛ لأن كلكم يعلم قصة الرجل في الصحيحين الذي مات في ميدان القتال وكان قائد الميدان رسول الله -صلّى الله عليه وسلّم- وأثنى الصحابة على بلائه ثم قال -عليه الصلاة والسلام- : (هو في النار)) إلى آخر الحديث المشهور المعروف</b><b>.</b><span id="more-18"></span></div>
<div align="right"><b></b></div>
<div align="justify"><b></b></div>
<div align="justify"><b></b></div>
<div align="justify"><b></b></div>
<div align="justify"><b></b></div>
<div align="justify"><b></b></div>
<div align="justify"><b></b></div>
<div align="justify"><b></b></div>
<div align="justify"><b></b></div>
<div align="justify"><b></b></div>
<div align="justify"><b></b></div>
<div align="justify"><b></b></div>
<div align="justify"><b></b></div>
<div align="justify"><b></b></div>
<div align="justify"><b></b></div>
<div align="justify"><b>Jawapan : </b>Dia (Syed Qutb) dikaitkan dengan kalimat &#8211; biiznillah= dengan izin ALlah &#8211; dan mengaitkannya dengan izin ALlah itu (tentang syahidnya) adalah lebih baik, kerana kami telah sebutkan sebelum ini, bahawasanya tidak boleh kita berhukum di dunia dengan syahid (secara pasti) kepada seseorang sama sekali. Walaupun seseorang itu mati dahadapan kita dalam medan peperangan, sebaliknya hendaklah kita katakan : Kami mengharapkan Allah &#8216;azza wa jall menjadikannya dari kalangan para syuhada&#8217;, dan kami mengharapkan dia termasuk di kalangan syuhada&#8217; di sisi Allah. <b>Perkara ini amat penting (untuk diambil perhatian).</b> Ini kerana setiap kamu semua mengetahui kisah seorag lelaki yang terdapat di dalam sahih al-Bukhari dan Muslim yag mati di dalam medan peperangan. Dia berani di dalam peperangan, lalu para sahabat memuji keberaniannya, kemudian sabda Nabi saw : &#8220;Dia di dalam neraka&#8221; sehingga ke akhir hadith, seperti yang masyhur dan yang diketahui umum.</div>
<div align="right"><b></b></div>
<div align="right"><b></b></div>
<div align="right"><b></b></div>
<div align="right"><b>فنسأل الله -عز وجل- أن يجعل الشيخ سيد قطب -رحمه الله- عنده من الشهداء فهو الرجل الذي قدّم دمه وفكره وعقله لدين الله -عز وجل- نسأل الله أن يتجاوز عنه بمنه وكرمه، وأن يغفر لنا وله وأن يتقبل منا ومنه صالح الأعمال، وأنا أُشهد الله أني أحب هذا الرجل في الله مع علمي يقيناً أن له أخطاء وأنا أقول: لو عاملتم يا شباب شيوخ أهل الأرض بما تريدون أن تعاملوا به الشيخ سيد قطب فلن تجدوا لكم شيخاً على ظهر الأرض لتتلقوا العلم على يديه لأن زمن العصمة قد انتهى بموت المعصوم محمد بن عبدالله وكل كتاب بعد القرآن معرض للخلل {ولو كان من عند غير الله لوجدوا فيه اختلافاً كثيرا}</b></div>
<div align="right"><b></b></div>
<div align="justify">Kita memohon kepada Allah untuk menjadikan al-Syeikh Syed Qutb &#8211; rahimahulLah &#8211; di sisinya termasuk dari kalangan para syuhada&#8217;. Beliau (Syed Qutb) seorang tokoh yang telah mempersembahkan darahnya, fikirannya dan akalnya untuk agama Allah azza wa jall &#8211; kita memohon kepada Allah untuk memberi nikmat dan kemuliaan kepadanya (Syed Qutb), dan semoga Allah mengampunkan kita dan dia (Syed Qutb), dan menerima daripada kita dan dia amalan-amalan soleh. Dan aku bersyaksikan dengan Allah, sesungguhnya aku menyayangi beliau (Syed Qutb) kerana Allah, dalam keadaan aku mengetahui dengan yakin bahawasanya bagi dia (Syed Qutb) ada beberapa kesilapan, dan aku katakan kalau kamu semua lakukan wahai pemuda-pemuda kepada syeikh-syeikh yang berada di bumi ini seperti apa yang kamu semua lakukan kepada Syed Qutb, pasti kamu tidak akan dapati walau seorang syeikh yang berada di atas muka bumi ini untuk kamu ambil ilmu darinya, ini kerana zaman &#8216;ismah telah berlalu pergi dengan wafatnya al-maksum Muhammad bin Abdillah (saw). Dan setiap kitab selain dari al-Quran terdedah kepada kekurangan, firman Allah maksudnya : <i>&#8220;Kalaulah al-Quran itu bukan daripada Allah, pastilah kamu akan mendapati di dalamnya pertembungan yang banyak.&#8221;</i></div>
<div align="justify"><i></i></div>
<div align="justify"><i></i></div>
<div align="justify"><i></i></div>
<div align="justify"><i></i></div>
<div align="justify"><i></i></div>
<div align="right"><b></b></div>
<div align="right"><b></b></div>
<div align="right"><b>.</p>
<p>لذا فأنا أحب هذا الرجل مع علمي ببعض أخطائه وأقول ومَن مِن البشر لم يخطئ؟ (فكل بني آدم خطاء وخير الخطائين التوابون)<br />
</b></div>
<p><b></p>
<p>Aku sayang kepada Syed Qutb dalam keadaan aku tahu terdapat beberapa kesilapannya, dan aku katakan, siapakah dari kalangan manusia yang tidak melakukan kesilapan ? &#8211; Setiap anak Adam itu melakukan kesalahan, dan sebaik-baik yang melakukan kesalahan itu ialah yang bertaubat.&#8221;</b></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/salafiharoki.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/salafiharoki.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafiharoki.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafiharoki.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafiharoki.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafiharoki.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafiharoki.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafiharoki.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafiharoki.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafiharoki.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafiharoki.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafiharoki.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafiharoki.wordpress.com&blog=2578131&post=18&subd=salafiharoki&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/23/fatwa-al-syeikh-muhammad-hasan-tentang-sayyid-qutb/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8f4fd5bf5b7b77812a9720c1f49e48fb?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">salafiharoki</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>