Oleh: Sayyid Qutb (dari Fii Zhilaali al-Qur’an)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (١) حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (٢) كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (٣) ثُمَّ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (٤) كَلا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ (٥) لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ (٦)ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ (٧)ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ (٨)
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
1. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,
2. sampai kamu masuk ke dalam kubur.
3. janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),
4. dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.
5. janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,
6. niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,
7. dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin.
8. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).
Surah ini membawa nada yang hebat, menggerun dan mendalam seolah-olah satu suara dari seorang pemberi perintah yang berdiri di suatu tempat yang tinggi dan berseru dengan suara yang kuat dan lantang. Ia menggerakkan manusia-manusia yang lalai, yang mabuk dalam kesenangan dan larut dalam kekeliruan yang sedang menghampiri gaung kebinasaan, sedangkan mata mereka tertutup, pancaindera mereka terpesona dan terpukau. Ia menyeru mereka dengan selantang-lantang suaranya.
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (١)
1. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,
حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (٢)
2. sampai kamu masuk ke dalam kubur.
Wahai orang-orang yang lalai dalam kekeliruan dan yang mabuk dalam kesenangan, wahai orang-orang yang lalai, yang asyik berlomba-lomba membanyakkan harta kekayaan, anak-pinak dan kenikmatan dunia! Ingatlah, bahwa kamu sekalian lambat laun akan berpisah dengan kekayaan itu. Wahai orang-orang yang tertipu dengan kenikmatan-kenikmatan hidup hingga melupakan apa yang akan berlaku selepasnya, wahai orang-orang yang akan meninggalkan semua harta kekayaan dan kesenangan yang menjadi sasaran perlombaan dan kebanggaan mereka hingga masuk ke lubang kubur yang sempit, di mana tiada ruang lagi untuk berlomba-lomba dan bermegah-megah,
sadarlah dan insaflah sesungguhnya:
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (١)
1. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,
حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (٢)
2. sampai kamu masuk ke dalam kubur.
Kemudian Allah mengetuk pintu hati mereka untuk menyampaikan berita-berita dahsyat yang menunggu mereka selepas mereka masuk ke dalam kubur dengan nada yang mendalam dan menarik:
كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (٣)
3. janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),
Kemudian perintah itu diulangkan sekali lagi dengan menggunakan kata-kata yang sama yang membawa nada-nada yang hebat dan menggentarkan,
ثُمَّ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (٤)
4. dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.
Kemudian perintah itu ditegaskan semakin mendalam dan semakin hebat membayangkan perkara dahsyat yang akan berlaku kepada mereka, mereka tidak sadar terhadap hakikat yang dahsyat itu pada saat-saat mereka mabuk dalam kesenangan dan asyik dalam perlombaan membanyakkan harta kekayaan.
كَلا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ (٥)
5. janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,
Kemudian Ia tunjukkan hakikat dahsyat yang tersembunyi itu:
لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ (٦)
6. niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,
Kemudian hakikat itu ditegaskan sekali lagi dengan nada yang lebih mencemaskan hati:
ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ (٧)
7. dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin.
Kemudian Ia menyampaikan pelajaran akhir yang membuat si mabuk siuman, si lalai sadar dan si lalai memberi perhatian dan orang yang sedang berfoya-foya dalam kenikmatan menggeletar dengan nikmat-nikmat yang ada di dalam tangannya.
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ (٨)
8. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).
Kamu akan ditanya tentang segala nikmat itu dari mana kamu dapat? Dan ke manakah pula kamu belanjakannya? Adakah kamu mendapat nikmat-nikmat itu dari kerja-kerja ketaatan dan kamu belanjakannya pula ke jalan-jalan ketaatan? Atau kamu mendapat nikmat itu dari kerja-kerja ma’siat dan kamu belanjakannya ke jalan ma’siat? Adakah kamu memperoleh nikmat itu dari pencarian yang halal dan membelanjakannya ke jalan yang halal? Atau kamu memperolehnya dari pencarian yang haram dan kamu belanjakannya pula ke jalan yang haram? Adakah kamu bersyukur kepada Allah terhadap
nikmat itu? Adakah kamu tunaikan zakatnya? Adakah kamu membagi-bagikan nikmat itu kepada orang lain? Atau kamu habiskan nikmat itu untuk diri kamu saja?
ثُمَّ لَتُسْأَلُنّ
8. kemudian kamu pasti akan ditanyai
Kamu akan ditanya tentang kegiatan-kegiatan hidup kamu yang berlomba-lomba membanyakkan harta kekayaan dan bermegah-megah dengannya. Itulah tanggungjawab yang dipandang ringan oleh kamu pada saat-saat kamu sedang lalai dalam nikmat kesenangan, tetapi akibatnya kamu akan menanggung duka-nestapa yang amat berat. Surah ini merupakan satu surah yang amat jelas maksudnya. Ia menyampaikan maksud-maksudnya secara langsung ke dalam hati manusia dan menjadikan hati mereka
memberi perhatian yang berat kepada Akhirat dan menepikan kenikmatan-kenikmatan dunia yang remeh dan minat-minat kesukaan yang kecil, yang menjadi kegemaran orang-orang yang kosong jiwanya.
Surah ini menggambarkan kenikmatan hidup dunia sebagai satu tayangan sekilas dalam sebuah film yang panjang.
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (١)
1. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,
حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (٢)
2. sampai kamu masuk ke dalam kubur.
Kemudian tayangan itu berakhir dengan menutup lembarannya yang pendek. Dan selepas hidup dunia, zaman akan terus berlanjut dan memanjang dengan beban-bebannya yang bertambah berat.
Pengungkapan ayat-ayat itu sendiri menyampaikan saran-saran ini dan ini menjadikan hakikat yang dibicarakan itu selaras dengan susunan ungkapan yang unik itu. Sebagaimana seseorang itu membaca surah yang hebat, mendalam dan menggentarkan ini, yang mula-mulanya menjulang naik dengan nadanya yang lantang ke angkasa dan kemudian menunjam turun dengan nadanya yang tenang ke dalam lubuk hati, ia akan merasa betapa beratnya tanggungjawab hidup yang dihayatinya sebentar di dunia ini, kemudian ia memikul tanggungjawab yang berat itu dalam perjalanannya, kemudian di sanalah ia akan menghisabkan dirinya sendiri terhadap segala nikmat yang dinikmatinya sehingga sekecil-kecilnya.